Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PMI China Memuaskan, Harga Tembaga Menguat

Harga tembaga melanjutkan reli dan memimpin kenaikan logam industri lainnya seiring dengan sinyal perbaikan ekonomi China sebagai konsumen terbesar di dunia.
Ilustrasi/Bisnis.com
Ilustrasi/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA — Harga tembaga melanjutkan reli dan memimpin kenaikan logam industri lainnya seiring dengan sinyal perbaikan ekonomi China sebagai konsumen terbesar di dunia.

Pada perdagangan Senin (3/10) pukul 16:38 WIB harga tembaga di bursa Comex untuk kontrak Desember 2016 naik 0,4 poin atau 0,18% menjadi US$221,45 per pon. Adapun harga tembaga di London Metal Exchange (LME) meningkat 24 poin atau 0,5% menuju US$4.865 per ton pada penutupan perdagangan Jumat (30/9).

Indeks LME yang melacak harga enam logam utama berada di titik tertinggi dalam setahun terakhir karena membaiknya sentimen minyak mentah setelah OPEC memangkas produksi.

Naiknya harga minyak membuat biaya produksi logam meningkat, sehingga industri mengerem kinerja. Adapun enam logam industri utama yang diperdagangkan di LME ialah tembaga, seng, nikel, timah, timbal, dan aluminium.

Logam melanjutkan tren bullish setelah rilis indeks manufaktur China periode September 2016 yang bertahan di level tertinggi dalam dua tahun terakhir. Biro statistik setempat menyebutkan, Manufacturing Purchasing Manager Index (PMI) Negeri Panda berada di angka 50,4, atau sama dengan kinerja bulan sebelumnya.

Angka yang stabil di atas 50 menunjukkan ekspansi industri domestik berada di level positif. Hal ini sekaligus mengindikasikan pemulihan ekonomi China.

Eri Norland, executive director & senior economist CME Group Inc., mengatakan angka PMI secara langsung memberikan sentiment positif terhadap logam dan hamper seluruh sektor industri. “Angka PMI yang menunjukkan penguatan tertinggi dalam dua tahun terakhir tidak dapat disangkal memberikan manfaat bagi logam,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (3/10/2016).

Pan Pacific Copper Co., produsen tembaga terbesar di Jepang dalam peresentasinya kemarin memaparkan, permintaan logam sebagai bahan baku kabel dan alat elektronik ini akan melebihi pasokan pada tahun depan. Defisit suplai pada 2017 diperkirakan sebesar 52.000 ton, setelah terjadi surplus pada 2016 sekitar 110.000 ton.

Tren defisit suplai bakal terjadi hingga empat tahun ke depan. Oleh karena itu, sampai 2020 harga tembaga bisa naik 46%.

National Bank of Abu Dhabi (NBAD) dalam publikasi risetnya, Senin (3/10), harga tembaga berhasil menghijau di tengah meningkatnya selera investor terhadap asset berisiko dan menurunnya persediaan di LME. Di sisi lain, permintaan China menunjukkan sinyal positif melalui data PMI September yang mencapai 50,4, meskipun angka tersebut lebih rendah dari perkirakan konsensus sebesar 50,5.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper