Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Jagung Siuman Akibat Cuaca Panas Laut Hitam

Harga jagung mulai bangkit seiring dengan cuaca panas yang melanda wilayah Laut Hitam mengurangi hasil panen. Meskipun demikian, harga diprediksi terkoreksi pada 2016.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 04 Agustus 2016  |  18:58 WIB
Ilustrasi - bisnis/yn
Ilustrasi - bisnis/yn

Bisnis.com, JAKARTA--Harga jagung mulai bangkit seiring dengan cuaca panas yang melanda wilayah Laut Hitam mengurangi hasil panen. Meskipun demikian, harga diprediksi terkoreksi pada 2016.

Pada perdagangan Kamis (4/8/2016) pukul 17:52 WIB harga jagung untuk kontrak September 2016 stabil di level US$335 per bushel. Dua hari sebelumnya, harga di posisi US$334 menjadi level terendah baru 2016 dan menunjukkan koreksi 12,79% sepanjang tahun berjalan.

Bulan lalu, tepatnya 17 Juni, harga jagung meroket ke US$448,75 per bushel. Angka ini merupakan level tertinggi sejak Juni 2014.

Data MDA Wheather Services menampilkan dalam sebulan terakhir, curah hujan menurun 10%-30% dari tingkat normal di beberapa daerah. Di saat yang sama, cuaca juga memanas 1-2 derajat celcius.

Kondisi tersebut membuat fase kunci pertumbuhan jagung, yakni menjelang panen terganggu. Sejumlah daerah yang mengalami kerusakan penanaman di antaranya Rumania, Bulgaria, dan Ukraina.

Olena Hesova, analis komoditas biji-bijian UkrAgroConsult., menyampaikan para investor mengamati seksama cuaca di Laut Hitam sekitar sebulan sebelum masa panen. Bulgaria setidaknya dapat mengalami koreksi panen sebanyak 7%.

Meskipun demikian, panen yang lebih kecil di wilayah Laut Hitam bisa membantu memperlambat pemerosotan harga. Pasalnya, harga sudah terjatuh lebih dari 60% sejak 2012.

Martin Roussev, CEO Vitagrain, mengatakan potensi panen di Bulgaria dan Rumani bakal berkurang. Petani di Bulgaria kemungkinan menghasilkan 2,5 juta ton pada musim 2016-2017, jatuh 200.000 ton dari proyeksi sebelumnya.

"Kedua negara [Rumania dan Bulgaria] diperkirakan akan memanen lebih awal dari biasanya akibat kekeringan," ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (4/8/2016).

Vladimir Petrichenko, Direktur Umum OOO ProZerno, menuturkan Rusia menjadi satu-satunya negara di Laut Hitam yang terhindar dari efek cuaca panas terhadap tanaman jagung. Pasalnya, serangan panas berlangsung setelah musim berbunga.

"Namun, panen kemungkinan masih akan berkisar 13,7 juta ton, turun 1,4% dari proyeksi sebelumnya," paparnya.

Sementara itu, laporan Bank Dunia menyebutkan produksi jagung global pada musim 2016-2017 diprediksi meningkat 5,3%. Amerika Serikat sebagai produsen terbesar di dunia akan tetap menjadi kontributor utama. Wilayah lain seperti Eropa dan Ukraina juga akan menyumbangkan peningkatan hasil panen.

Meskipun demikian, stok jagung akan turun 1% menjadi 20,6%. Pasalnya, akan ada impor lebih tinggi dari Bangladesh yang juga mengimbangi penurunan penyerapan China.

Bank Dunia memperkirakan, rerata harga jagung pada 2016 turun 2,94% menjadi US$165 per ton dari tahun sebelumnya sebesar US$170 per ton. Pada kuartal II/2016, harga sudah meningkat senilai US$171 per ton dari triwulan pertama US$160 per ton.

"Harga mengalami lonjakan pada Juni, yakni US$180 per ton. Sementara pada April dan Mei 2016, posisi harga berada di level US$164 serta US$169," papar laporan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga jagung
Editor : Saeno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top