Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasokan Anjlok, Harga Jagung Raih 8 Bulan Tertinggi

Harga jagung melesat ke level tertinggi dalam delapan bulan terakhir seiring dengan rendahnya pasokan dan permintaan yang tinggi, terutama dari peternakan di Brasil.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 02 Juni 2016  |  17:54 WIB
/Bisnis
/Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA - Harga jagung melesat ke level tertinggi dalam delapan bulan terakhir seiring dengan rendahnya pasokan dan permintaan yang tinggi, terutama dari peternakan di Brasil.

Pada perdagangan Kamis (2/6/2016) harga jagung untuk kontrak Juli 2016 naik 0,25 poin atau 0,06% menjadi US$414 per bushel. Angka tersebut menunjukkan harga sudah meningkat sebanyak 13,81% sepanjang tahun berjalan.

Harga jagung itu juga meraih level tertinggi dalam 8 bulan terakhir, setelah sebelumnya pada 7 Oktober 2015 mencapai posisi US$417,25 per bushel.

Francisco Turra, Presiden Kelompok Eksportir Ternak Brasil atau dikenal dengan Associacao Brasileira de Proteina Animal (ABPA), mengatakan perusahaan-perusahaan di dalam negeri terpaksa mengurangi produksi hingga 10% dalam tiga bulan terakhir. Pasalnya, ternak-ternak mereka kekurangan pakan jagung.

Sebagai eksportir ternak terbesar di dunia, industri di Negeri Samba terpaksa melakukan pengetatan belanja modal, memotong jam kerja, atau meliburkan karyawan.

"Kelangkaan jagung menjadi kejutan tahun ini. Proyeksi merosotnya suplai menjadi sentimen dalam beberapa bulan terakhir," tuturnya seperti dikutip dari Bloomberg, Kamis (2/6/2016).

Padahal, sambung Turra, Brasil menjadi salah satu negara eksportir terbesar di dunia. Pemerintah setempat akhirnya memangkas tarif impor untuk memudahkan masuknya jagung ke dalam negeri.

Di sisi lain, mata uang real Brasil mengalami kenaikan yang cukup signifikan sepanjang tahun berjalan. Kondisi itu membuat para produsen memilih menjual hasil panennya ke luar negeri.

Hightower Report dalam laporannya menuliskan, reli yang terjadi pada jagung ke level tertinggi sejak periode Oktober-Desember 2015 memicu aksi jual pendek (selling short-term). Mengingat faktor hambatan cuaca kian mereda, diharapkan penanaman berlangsung lebih kondusif dan memacu pembelian.

"Pasar rentan terhadap aksi profit taking dengan prospek membaiknya penanaman secara fisik. Level resistance yang perlu dilampaui dalam jangka pendek ialah US$412,75," paparnya seperti dikutip Bisnis.com, Kamis (2/6/2016).

Riset Bank Dunia menyampaikan, pasar jagung pada musim ini diprediksi bakal lebih ketat akibat berkurangnya pasokan. Produksi pada musim 2014-2015 sejumlah 1.012,8 juta ton bakal terkoreksi 4,01% menuju ke 972,1 juta ton di periode 2015-2016.

Tingkat ekspor dunia pada musim ini juga bakal menurun menjadi 122,3 juta ton secara tahunan (y-o-y) dari sebelumnya sebesar 141,7 juta ton. Amerika Serikat sebagai eksportir terbesar di dunia berkontribusi 41,9 juta ton, diikuti Brasil sebanyak 28 juta ton, dan Argentina sejumlah 19 juta ton.

Meski ekspor turun, tingkat impor justru bakal meningkat. Impor jagung musim 2015-106 naik 5,26% menjadi 130 juta ton dibandingkan periode sebelumnya sebesar 123,5 juta ton.

Walaupun begitu, dari segi proyeksi harga, tahun 2016 akan turun US$5 dari 2015 menjadi US$165 per ton. Sementara pada 2017 harga jagung naik menjadi US$170 ton dan terus terkerek hingga mencapai US$188 per ton tahun 2020.

Bank Dunia lainnya menyebut, rata-rata harga jagung pada kuartal I/2016 adalah US$160 per ton, atau terkoreksi 8,05% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya sejumlah US$174 per ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga jagung
Editor : Nancy Junita

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top