Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Turunkan Harga Semen, INTP Kencangkan Ikat Pinggang

Keputusan untuk menurunkan harga jual semen Rp3.000 per zak membuat PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) harus mengencangkan ikat pinggang.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 21 Januari 2015  |  20:23 WIB
Keputusan menurunkan harga Rp3.000 per zak membuat PT Indocement Tunggal Prakarsa mengencangkan ikat pinggang. - JIBI
Keputusan menurunkan harga Rp3.000 per zak membuat PT Indocement Tunggal Prakarsa mengencangkan ikat pinggang. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTA--Keputusan untuk menurunkan harga jual semen Rp3.000 per zak membuat PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) harus mengencangkan ikat pinggang.

Christian Kartawijaya, Direktur Utama Indocement, mengatakan penurunan harga dapat menggerus margin laba perseroan pada tahun ini. Terlebih komponen biaya listrik dan depresiasi nilai tukar rupiah yang terus melonjak sejak akhir 2013 lalu telah menekan keuntungan perseroan.

"Supaya enggak ada penurunan margin, kami melakukan penghematan sebisa mungkin," ungkapnya, Rabu (21/1/2015).

Agar margin laba tidak tergerus, emiten berkode saham INTP tersebut melakukan berbagai langkah penghematan. Komponen biaya bahan bakar yang mencapai 7%-8% akan ditekan lebih rendah.

Selain itu, biaya listrik yang memberikan kontribusi 20%-25% dari total biaya juga tengah dilakukan efisiensi. Perseroan tengah menegosiasikan dengan PLN agar tarif listrik kembali diturunkan.

Meskipun pada awal tahun ini telah terjadi penurunan harga listrik 15%, tetapi sepanjang tahun lalu tarif listrik meningkat 65%. Hal itu diklaim telah memukul beban biaya INTP yang terus membengkak.

Begitu pula dengan komponen bahan bakar batu bara yang berkontribusi sebesar 50%-60% terhadap total bahan baku, pembeliannya menggunakan dollar Amerika Serikat. Sejak setahun lalu, depresiasi rupiah mencapai 19%-20% hingga saat ini.

"Penghematan kami lakukan dengan pengurangan biaya tetap sebesar 5%-10%," paparnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indocement
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top