Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Di Asia, Pertumbuhan Kapitalisasi Pasar Tertinggi Ketiga

Bisnis.com, JAKARTA-Pertumbuhan nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia yang berada di posisi ketiga dibandingkan bursa negara-negara Asia sepanjang 2013 menjadi kado istimewa bagi Dies Natalis ke-36.

Bisnis.com, JAKARTA-Pertumbuhan nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia yang berada di posisi ketiga dibandingkan bursa negara-negara Asia sepanjang 2013 menjadi kado istimewa bagi Dies Natalis ke-36.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan, nilai kapitalisasi pasar Indonesia mengalami kenaikan 3,91% atau sebesar Rp453 triliun, dari Rp4.158 triliun pada 2 Januari 2013 menjadi Rp4.611 triliun, 13 Agustus lalu.

Jika dibandingkan bursa negara-negara Asia, pertumbuhan kapitalisasi indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di peringkat ketiga setelah bursa Nikkei225 Jepang dan Shenzhen China yang masing-masing tumbuh 20,66% dan 6,38%.

Di bawah Indonesia bertengger negara tetangga yakni, Malaysia dan Thailand yang menduduki peringkat keempat dan kelima dengan pertumbuhan nilai kapitalisasi 3,68% dan 2,55%.

Sementara itu, bursa negara Asia lain mengalami penurunan nilai kapitalisasi yang cukup signifikan, diawali oleh Filipina yang merosot 1,28% hingga kapitalisasi bursa India yang anjlok hingga 21,52% dan berada di peringkat buncit.

Kendati pertumbuhan nilai kapitalisasi Indonesia sepanjang tahun relatif aman, tetapi secara nominal masih jauh di bawah ekspektasi pasar.

Berdasarkan skala nominal, kapitalisasi pasar Indonesia masih berada di urutan kesembilan dibanding dengan nilai kapitalisasi pasar negara Asia lain.

Padahal usia bursa lokal tercatat sebagai yang tertua ke empat di Asia setelah Hongkong, Mumbai, dan Tokyo. Artinya, perkembangan pasar modal tanah air telah disalip oleh empat negara lain yakni China, Korea Selatan, Singapura, bahkan Malaysia.

Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad mengklaim pasar modal Indonesia telah mengalami perkembangan cukup baik, meski sempat direhatkan oleh sejumlah peristiwa politik dan ekonomi, seperti Perang Dunia II, dan  larangan perdagangan efek perusahaan Belanda, dan inflasi tinggi pada era 1960.

“Pada era 1987-1990, pemerintah menyederhanakan peraturan pasar modal sehhingga jumlah emiten meningkay pesat, dari 24 emiten menjadi 145 emiten,” sebutnya.

Dia menargetkan bisa mewujudkan pasar modal sebagai sumber pendanaan yang mudah diakses, menjadi sarana investasi yang atraktif, serta menjadi industri yang stabil, tahan uji, dan likuid.

“Untuk mencapainya, kami akan berupaya keras mendorong market deepening melalui peningkatan supply dan demand,” tuturnya.

Anggota Dewan Komisioner, Kepala Eksekutif Pengawasan Pasar Modal OJK Nurhaida mengatakan regulator akan membangun sinergi dan mensinkronkan peraturan untuk mendukung pergerakan pasar modal.

OJK juga akan menyederhanakan prosedur penawaran umum dan melakukan rasionalisasi kewajiban keterbukaan informasi. "Dari sisi demand, sudah dibentuk IPF [investor protection fund atau Dana perlindungan Investor],” ungkapnya.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia Ito Warsito menambahkan pihaknya juga melakukan sosialisasi untuk melakukan pendalaman pasar, seperti membentuk forum calon investor, melakukan pertemuan bisnis (business meeting), dan mengadakan forum investor.

Tak hanya itu, otoritas bursa juga telah menyusun berbagai program edukasi bagi investor pemula untuk meningkatkan likuiditas di pasar modal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Lavinda

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper