Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

PERINGKAT EMITEN: Fitch tetapkan rating Protelindo di BB

JAKARTA: Lembaga Pemeringkat Fitch Ratings menegaskan peringkat jangka panjang dalam mata uang asing Issuer Default Rating PT Profesional Telekomunikasi Indonesia Tbk  di level BB dan peringkat nasional jangka Panjang di level AA-(idn) dengan prospek
News Editor
News Editor - Bisnis.com 31 Mei 2012  |  17:41 WIB

JAKARTA: Lembaga Pemeringkat Fitch Ratings menegaskan peringkat jangka panjang dalam mata uang asing Issuer Default Rating PT Profesional Telekomunikasi Indonesia Tbk  di level BB dan peringkat nasional jangka Panjang di level AA-(idn) dengan prospek stabil. 

Analis Utama Fitch Nitin Soni melalui riset yang dikirim ke Bisnis mengungkapkan penetapan peringkat mengacu analisa laporan keuangan Protelindo, dengan mempertimbangkan biaya operasional tambahan dari induk perusahaan. Protelindo adalah perusahaan menara independen terbesar di Indonesia dengan 6.767 lokasi, 11.510 penyewa, dan rasio penyewa tertinggi di industri sebesar 1,7x. 

"Peringkat tersebut mempertimbangkan komposisi counterparty yang lemah mengingat Protelindo meraih 69% pendapatannya dari perusahaan telekomunikasi yang memiliki peringkat kredit yang spekulati dan 31% sisanya berasal dari perseroan yang memiliki investment grade," ujarnya melalui riset yang dikirim ke Bisnis, sore ini, 31 Mei 2012.

 

Dia menjelaskan Fitch menilai perusahaan telekomunikasi yang lemah tersebut mengendalikan kurang dari 10% total pendapatan industri telekomunikasi Tanah Air dan terus perlu berupaya mencapai tingkat keuntungan operasional positif dalam jangka waktu pendek hingga menengah.

 

Protelindo mempunyai eksposure yang besar dengan 39% dari pendapatan kuartal I 2012 berasal dari PT Hutchison CP Telecommunication (HCPT). Anak perusahaan dari Hutchison Whampoa Limited tersebut merupakan operator kecil dengan penguasaan pangsa pasar yang rendah di sektor telekomunikasi Tanah Air.

 

Namun, lanjutnya, Fitch mempertimbangkan fakta perusahaan telekomunikasi sering menilai  sewa menara sebagai kewajiban utang yang diutamakan karena keperluan untuk menyediakan jasa terhadap pelanggannya.

 

"Ini terbukti dari pengalaman Protelindo dengan PT Mobile-8 Telecom Tbk [berganti nama menjadi PT Smartfren] yang membayar semua kewajiban sewanya meski terpaksa merestrukturisasi utangnya pada 2008." 

 

Menurutnya, Fitch mencatat Protelindo berfokus untuk meningkatkan komposisi penyewa dari perusahaan yang memiliki kategori investment grade untuk memperkuat bisnisnya. Dia menjelaskan  kontribusi pendapatan dari perusahaan dengan investment grade meningkat menjadi 31% pada kuartal I 20 12 dibandingkan pada 2009 yang sebesar 17%.

 

Nitin menjelaskan Protelindo memiliki arus kas yang stabil dan terprediksi dari kontrak non cancellable dengan tenor jangka panjang (10-12 tahun) dari perusahaan telekomunikasi di Tanah Air. Kontrak ini, lanjutnya, juga mencakup in built kenaikan harga tahunan yang dikaitkan dengan tingkat inflasi. Protelindo menerima lebih dari setengah pendapatan tahunannya di muka dan mempunyai pendapatan kontrak sebesar kira-kira US$1,8 miliar (Rp 162,1 triiyun) pada tahun buku yang berakhir Maret 2012. 

Nitin menjelaskan kuatnya kredit profil Protelindo ditunjukkan dengan margin laba sebelum bunga pajak, depresiasi, dan amortisasi (earning before interest taxes, depreciation< and amortization/EBITDA) yang sangat baik pada kuartal I 2012 levelnya sebesar 84%. Selain itu, paparnya, rasio utang perseroan moderat dengan (net adjusted debt/EBITDAR) sebesar 3.9x.

 

Dia memaparkan Fitch mencatat perusahaan menara di Indonesia meraih manfaat dari sistem peraturan yang menguntungkan sehingga mencegah investor asing memiliki perusahaan menara. Selain itu, pemerintah mendorong perusahaan telekomunikasi untuk berbagi penggunaan sarana tersebut dibandingkan dengan membangun menara baru ekslusif untuk tiap perusahaan telekomunikasi.

 

"Fitch memperkirakan Protelindo akan tumbuh dengan pesat untuk jangka waktu menengah panjang, disebabkan tingginya pesanan, keuangan yang fleksibel, dan permintaan yang kuat funtuk lokasi menara. Hal ini didukung juga oleh keperluan perusahaan telekomunikasi untuk meningkatkan kapasitas 2G dan penetrasi 3G yang lebih tinggi." 

Menurutnya, konsolidasi dan akuisisi merupakan strategi alami dalam bisnis menara di Indonesia karena arus kas bebas yang terprediksi dihasilkan dari aset yang tersedia. Peringkat ini, paparnya, telah memasukkan keyakinan Fitch manajeman Protelindo akan melakukan akuisisi secara disiplin, yang diperlihatkan oleh target net debt to EBITDA berjalan sebesar 3x. 

Namun, katanya, dampak negatif terhadap peringkat Protelindo dapat terjadi apabila terdapat akuisisi atau inisiatif pengelolaan modal yang berakibat kenaikan net debt/operating EBITDAR di atas 4x secara berkelanjutan.

 

Protelindo menyewakan infrastruktur pasif untuk perusahaan telekomunikasi berupa antena dan peralatan lain yang diperlukan untuk transmisi sinyal nirkabel. Pemegang saham utama adalah Grup Djarum yang menguasai sekitar 50,1% PT Sarana Menara Tbk (pemilik 99,99% saham Protelindo). Pendapatan dan EBITDA Sarana Menara tumbuh dengan compounded aggregate rate di 99% dan 114%, masing-masing, pada periode 2007-2012. Antara Januari dan April 2012, Sarana Menara melaporkan pendapatan dan EBITDA yang tidak diaudit sebesar masing- masing sebesar Rp481,5miliar dan Rp404miliar.(mmh)

 

BERITA LAINNYA:


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : M. Munir Haikal

Editor : Intan Permatasari

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top