Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

BURSA EMERGING MARKET: Indeks naik tipis setelah sentuh level terendah

NEW YORK: Bursa saham dari pasar negara-negara berkembang menyentuh level terendah dalam 5 bulan setelah Perdana Menteri Wen Jiabao mengatakan China harus lebih fokus mendukung perekonomian, memacu keuntungan dalam komoditas dan mengimbangi kekhawatiran
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 Mei 2012  |  06:36 WIB

NEW YORK: Bursa saham dari pasar negara-negara berkembang menyentuh level terendah dalam 5 bulan setelah Perdana Menteri Wen Jiabao mengatakan China harus lebih fokus mendukung perekonomian, memacu keuntungan dalam komoditas dan mengimbangi kekhawatiran atas krisis utang Eropa yang akan memburuk.MSCI Emerging Markets Index naik 0,7% menjadi 913,39 di New York, menghentikan penurunan 6 hari. Sektor energi dan industri yang memimpin kenaikan di indeks menyusul Petroleo Brasileiro SA (PETR4), yang dikendalikan negara perusahaan minyak Brasil, naik terbesar sejak Mei 2009 untuk membantu mendorong negara Bovespa dalam 7 bulan.OAO Tatneft, produsen minyak regional di Rusia, terdongkrak dalam 2 pekan untuk mengangkat Rusia MICEX indeks 2,1%.China harus mengadopsi "kebijakan fiskal yang proaktif dan kebijakan moneter yang bijaksana" untuk meningkatkan ekonomi terbesar kedua dunia, ungkap Wen pada akhir pekan.Jerman akan mempertimbangkan semua gagasan untuk memperkuat pertumbuhan kawasan euro, Menteri Keuangan Wolfgang Schaeuble mengatakan hari ini setelah pertemuan dengan timpalannya dari Prancis Pierre Moscovici.Indeks Standard & Poor GSCI dari 24 komoditas naik 0,7%, pulih dari level terendah 2012. Harga minyak mentah naik untuk pertama kalinya dalam 7 hari di New York."Fakta bahwa China terlalu terburu ke arah mode pelonggaran membuat orang lebih nyaman dengan masuk ke pasar negara berkembang," kata Dave Lutz, kepala perdagangan ETF dan strategi di Stifel Nicolaus & Co, melalui telepon dari Baltimore hari ini. "Pasar berkembang bergantung pada pertumbuhan China." (Bloomberg/arh)

 

 

BERITA FINANSIAL PILIHAN REDAKSI:

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Newswire

Editor : Annisa Lestari Ciptaningtyas

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top