Rupiah melemah, pelaku pasar modal agar tak panik

JAKARTA: Pemerintah menenangkan masyarakat, khususnya pelaku pasar modal untuk tidak panik dalam menghadapi guncangan pelemahan nilai tukar Rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) beberapa waktu ini. Pemerintah berkeyakinan fundamental perekonomian
News Editor
News Editor - Bisnis.com 22 September 2011  |  15:07 WIB

JAKARTA: Pemerintah menenangkan masyarakat, khususnya pelaku pasar modal untuk tidak panik dalam menghadapi guncangan pelemahan nilai tukar Rupiah dan indeks harga saham gabungan (IHSG) beberapa waktu ini. Pemerintah berkeyakinan fundamental perekonomian Indonesia masih relatif baik.Menteri Koordinasi bidang Perekonomian, Hatta Rajasa menegaskan persoalan melemahnya nilai tukar dan indeks harga saham sebagai persoalan global yang diakibatkan oleh kekhawatiran berlebihan pelaku pasar terhadap tren kemungkinan terjadinya penurunan  pertumbuhan.“Kinerja pasar modal kita masih tetap relatif terbaik, situasi Eropa yang memang cukup volatile. Tapi pesan saya, kita tidak perlu panik karena fundamental kita cukup baik,” ujar Hatta usai bertemu Menteri Ekonomi, Perdagangan dan Industri Jepang, Yukio Edano, hari ini.Hatta juga optimistis koordinasi antara Bank Indonesia, Kementerian Keuangan dan LPS berjalan dengan baik melalui implementasi protokol manajemen krisis sesuai otoritasnya masing-masing. “Indonesia kan sudah mempersiapkan policy response yang baik, baik BI maupun pemerintah memiliki koordinasi yang baik di dalam merespon berbagai hal yang terkait dengan pencanangan dana untuk buyback, stabilisasi obligasi, stabilisasi pasar SUN kita, dan sebagainya,” jelas Hatta.Terlebih Menko meyakini ketangguhan BI dalam melakukan intervensi dengan mengalirkan cadangan devisa di saat-saat yang dianggap genting oleh BI. “BI saya rasa cukup tangguh dengan cadangannya untuk melakukan intervensi apabila memang dianggap BI diperlukan. Dan saya yakin itu juga dilakukan,” katanya.Menanggapi kekhawatiran terjadinya capital outflow yang signifikan, Hatta tetap berkeyakinan hal tersebut belum terjadi dan terus diantisipasi pemerintah.  “Saya tetap meyakini itu tidak berkaitan dengan fundamental, jadi tidak ada alasan untuk panik soal-soal seperti itu. Walaupun jangan underestimate terhadap situasi perkembangan global sekarang ini,” ujar Hatta. Pengalaman menghadapi krisis 1998 dan 2008 perlu dijadikan pelajaran agar Indonesia selalu waspada terhadap krisis.Selain itu, Hatta juga menekankan tingkat daya beli masyarakat yang masih baik menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan cukup kokoh. “Saya yakin purchasing power masyarakat kita masih baik sehingga kita tetap harus memperkuat pasar domestik kita,” tegas Hatta.Pada kesempatan ini, Menko kembali mengutarakan pentingnya pemanfaatan dan efisiensi tata perdagangan dalam negeri apabila terjadi perlambatan pertumbuhan ekonomi global seperti yang tengah bergejolak di Amerika Serikat dan kawasan Eropa.“Indonesia harus memanfaatkan pasar domestiknya. Berarti kita [pemerintah] jaga purchasing power, kita jaga inflasi jangan tinggi, kita jaga tata niaga jangan sampai antar pulau disparitasnya terlalu tinggi. Kalau itu efisien maka saya yakin mesin-mesin produksi kita, mesin manufaktur kita tetap bekerja,” ujar Menko.Langkah-langkah itu dinilai Hatta tepat untuk mengantisipasi kemungkinan terganggunya ekspor ke negara lain, di samping itu perlu diversifikasi negara tujuan ekspor Indonesia, seperti Asean, Asia Timur, dan Afrika yang dianggap cukup potensial.(api) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Ana Noviani

Editor : Lingga Sukatma Wiangga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top