Bank sentral dunia buru emas untuk diversifikasi cadangan

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 19 September 2011  |  18:57 WIB

 

JAKARTA: Berbagai bank sentral dunia, khususnya dari negara dengan ekonomi baik, memburu emas guna mendiversifikasi cadangan mereka sekali pun harga berada di level tinggi. 
 
Peran bank sentral di pasar emas itu akan menjadi topik utama perdebatan pada konferensi tahunan London Bullion Market Association, pertemuan terbesar industri emas, di Montreal minggu ini. 
 
“Beralihnya bank sentral dari menjual dalam skala besar menjadi membeli telah membantu mendorong harga emas 25% lebih tinggi selama tahun ini,” tulis Jack Farchy pada Financial Times hari ini. Sejak 1980-an hingga 20 tahun kemudian bank sentral merupakan penjual emas dalam skala besar. 
 
Bank sentral Eropa telah menjadi pembeli bersih emas untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua dekade. Hal itu, menurut Jack, adalah tanda terbaru tentang bagaimana turbulensi dalam pasar mata uang dan surat utang telah merevolusi pasar emas lantakan.
 
Pembelian tersebut mungkin kecil dibandingkan dengan ukuran pasar emas global, tetapi patut digarisbawahi ada perubahan haluan yang luar biasa dari gelombang penjualan oleh bank sentral Eropa. Menurut Jack, terjadi pergeseran pembelian seiring bank sentral di pasar negara berkembang juga menaikkan cadangan emas. 
 
Menurut data dari Bank Sentral Eropa dan Dana Moneter Internasional, bank sentral Eropa telah menambahkan sekitar 25.000 troy ounce atau 0,8 ton emas untuk cadangan mereka pada tahun ini.
 
Bandingkan dengan penjualan rata-rata hampir 400 ton per tahun sejak tahun 1999, ketika mereka menukar emas batangan dengan surat utang. Konsumsi emas dunia berkisar 4.500 ton per tahun.
 
Sebagian besar pembelian di Eropa terkait dengan masuknya Estonia ke dalam blok mata uang tunggal pada awal tahun ini. Menurut pernyataan ECB, pada Januari bank sentral Estonia membeli emas untuk menambah cadangan ECB. Di tempat terpisah, Malta membeli 3.000 ounce.
 
“Berdasar data Dewan Emas Dunia bank sentral Eropa belum pernah menjadi pembeli bersih emas sejak 1985,” tulis Jack.
 
Dalam riset dewan emas menunjukan perubahan kepemilikan emas dunia di mana IMF yang mulanya berada di urutan kedua tersalip oleh Italia dan Jerman. Ibrahim, analis senior Harvest International Futures, mengatakan terjadi peningkatan signifikan pada bank-bank sentral di negara berkembang.
 
“Sejak krisis 2008 bank sentral merasa perlu mendiversifikasi cadangan devisanya dalam aset yang tidak tergerus inflasi,” katanya.
 
Hal itu sangat beralasan mengingat daya tahan dolar turun saat krisis melanda dan logam mulia sebagai pilihan yang paling rasional. 
 
Menurut Dewan Emas Dunia, Meksiko, Rusia, Korea Selatan dan Thailand telah melakukan pembelian dalam jumlah besar tahun ini, yang merupakan langkah untuk mengurangi eksposur mereka terhadap dolar. 
 
Secara global, pembelian emas oleh bank sentral tahun ini paling besar dari pada setiap waktu lain sejak runtuhnya sistem Bretton Woods 40 tahun yang lalu—terakhir kalinya nilai dolar dikaitkan dengan emas.
 
Menurut Ibrahim, banyak bank sentral akan menaikkan rasio cadangan emasnya hingga 70% karena krisis keuangan masih panjang ditandai dengan patokan bunga rendah AS hingga pertengahan 2013. 
 
Sementara itu, harga emas naik untuk hari kedua di London karena kekhawatiran derita akibat utang Eropa mendorong permintaan untuk logam sebagai perlindungan kekayaan.
 
Euro melemah terhadap dolar setelah para pejabat Eropa gagal untuk menawarkan rencana untuk menghentikan krisis utang regional dan seiring perjuangan Yunani untuk menghindari kegagalan. Logam, yang pekan lalu jatuh terbesar sejak Juni, menyentuh rekor US$1.921,15 per ounce pada 6 September.
 
"Ketakutan utang Yunani lagi merusak kepercayaan. Diversifikasi lebih lanjut terhadap emas tampaknya untuk menjaga logam tetap mendapat dukungan," tulis James Moore, seorang analis di TheBullionDesk.com di London, seperti dikutip Bloomberg.
 
Harga emas untuk pengiriman segera naik US$11,60 atau 0,6% menjadi US$1.823,47 per ounce pukul 9:01 di London. Harga emas untuk pengiriman Desember 0,6% lebih tinggi pada US$1.826,30 di Comex di New York.
 
Emas lantakan berada dalam jalur penguatan tahunan selama lebih satu dekade, suatu tren kenaikan beruntun terpanjang sejak setidaknya 1920 di London. Hal itu karena investor berusaha untuk mendiversifikasi aset dengan menjauh dari ekuitas dan beberapa mata uang. Logam ini naik 28% persen tahun ini, mengalahkan saham, komoditas dan obligasi global.
 
Banyak analis yang memangkas proyeksinya untuk harga emas tahun ini menjadi US$1.950 sebagai level tertinggi yang mungkin dicapai. “Level US$2.200 kemungkinan bagur tercapai tahun depan karena krisis keuangan masih panjang,” kata Ibrahim. 
 
"Masalah di dunia tidak akan pergi dalam satu atau dua hari dan akibatnya Anda akan selalu menemukan orang yang bersedia untuk membeli emas, terutama ketika harga turun," kata Liu Yangyi, seorang manajer pada China National Pearl Diamond Gem & Jewelry Import & Export Corp. (ln)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Taufikul Basari/Bloomberg

Editor : Annisa Sulistyo Rini

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top