Euro jatuh terendah dalam satu dekade

NEW YORK: Nilai tukar euro jatuh ke level terendah dalam satu dekade terhadap yen di tengah spekulasi Yunani mendekati gagal bayar utang (default ). Mata uang 17-negara membalik keuntungan kemarin terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian China
News Editor
News Editor - Bisnis.com 13 September 2011  |  20:36 WIB

NEW YORK: Nilai tukar euro jatuh ke level terendah dalam satu dekade terhadap yen di tengah spekulasi Yunani mendekati gagal bayar utang (default ). Mata uang 17-negara membalik keuntungan kemarin terhadap dolar AS di tengah ketidakpastian China akan membeli aset Italia. Sementara krone Norwegia jatuh untuk hari ketiga terhadap euro setelah ekspektasi atas suku bunga negara Nordik itu turun. Adapun dolar Selandia Baru jatuh terhadap yen setelah laporan menunjukkan volume produksi manufaktur secara tak terduga jatuh pada kuartal terakhir. "Kisah Italia cukup jadi angin sakal untuk saat ini untuk terus menjaga euro defensif," kata Jeremy Stretch, direktur eksekutif strategi valuta asing di Canadian Imperial Bank of Commerce di London. Stretch mengatakan China sebelumnya disebut-sebut sebagai penyelamat Eropa, tetapi tampaknya mereka sudah berinvestasi dan apakah mereka ingin menambah posisi tersebut mungkin menjadfi bahan perdebatan. Euro melemah 0,5% menjadi 105,07 yen pukul 06:28 di New York, setelah meluncur ke 103,90 kemarin, terendah sejak Juni 2001. Mata uang bersama itu terdepresiasi 0,3% menjadi US$1,3641. Yen naik 0,3% menjadi 77,00 per dolar. Yen menguat terhadap hampir semua mitra utamanya seiring keengganan menanggung risiko mendorong investor untuk membeli mata uang sebagai tempat lindung. Mata uang ini terapresiasi 2,9% dalam seminggu terakhir, menjadikannya pemain terbaik di antara 10 mata uang negara maju dalam indeks Bloomberg Correlation-Weighted Currency. Yen cenderung untuk terapresiasi selama gejolak ekonomi dan keuangan karena neraca perdagangan Jepang surplus yang membuat negara ini kurang bergantung pada modal asing. (Taufikul Basari/tw) 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : Nadya Kurnia

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top