Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Prospek Keseimbangan Permintaan Meningkat, WTI Menguat

Minyak mentah ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (1/2/2018), meredakan sejumlah pesimisme dalam beberapa hari terakhir, karena pelaku pasar meningkatkan prospek terhadap keseimbangan permintaan dan penawaran.
Prediksi Harga Minyak WTI/Reuters
Prediksi Harga Minyak WTI/Reuters

Bisnis.com, JAKARTA - Minyak mentah ditutup menguat pada akhir perdagangan Kamis (1/2/2018), meredakan sejumlah pesimisme dalam beberapa hari terakhir. Hal ini terjadi karena pelaku pasar  meningkatkan prospek terhadap keseimbangan permintaan dan penawaran.

Minyak mentah West Texas Intermediate untuk pengiriman Maret menguat 1,7% atau 1,07 poin ke level US$65,80 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan sekitar 12% di atas rata-rata 100 hari.

Sementara itu, minyak Brent untuk pengiriman April melonjak 0,76 ke level US$69,65 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah patokan global diperdagangkan lebih mahal US$ 4,10 dibandingkan WTI. Kontrak Brent bulan Maret berakhir Rabu.

Dilansir Bloomberg, Goldman Sachs Group Inc memperkirakan minyak mentah Brent mencapai US$82,50 dalam waktu enam bulan ke depan, dan mengatakan penyeimbangan kembali pasar minyak kemungkinan telah tercapai lebih awal dari perkiraan.

Salah satu tanda terkuat bahwa tren minyak mentah telah berubah adalah pola gerak harga kontrak berjangka. Semakin dekat kontrak berakhir, semakin tinggi harganya. Pola tersebut adalah tipikal saat permintaan meningkat dan persediaan menurun.

Harry Tchilinguirian, kepala analis pasar komoditas di BNP Paribas SA mengatakan sentimen investor tetap positif karena data ekonomi yang kuat dan pelemahan dolar.

"Semua ini, bila dikombinasikan dengan kurva futures, cenderung menjadi undangan terbuka untuk pergerakan positif harga minyak," ungkapnya, seperti dikutip Bloomberg.

Harga minyak WTI tetap di atas level US$60 per barel sejak akhir Desember, memberikan dukungan kepada pengebor minyak shale AS untuk memompa lebih banyak. Output AS melonjak di atas 10 juta barel per hari untuk pertama kalinya dalam lebih dari empat dekade di bulan November.

Sementara itu, produksi dari Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC)pada Januari hanya meningkat 20.000 barel per hari.

"Ini masih merupakan permintaan yang bullish. Meski produksi AS akan terus naik, itu tidak akan sesuai dengan permintaan," kata Kyle Cooper, direktur penelitian IAF Advisors di Houston.

"Penurunan persediaan berlebih cepat diteruskan pada akhir 2017 oleh pertumbuhan permintaan yang luar biasa, kepatuhan OPEC yang tinggi, pemeliharaan kilang," analis Goldman Damien Courvalin dan Jeff Currie mengatakan dalam laporannya.

Goldman juga mengatakan kenaikan pasokan minyak shale  AS sebenarnya akan diperlukan untuk menjaga agar pasar tetap stabil dalam waktu dekat, karena setiap peningkatan output OPEC akan menunda penyeimbangan kembali.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper