Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gerak Harga Nikel hingga Tembaga usai Emas Tembus Rekor Tertinggi

Harga komoditas mengekor pergerakan harga emas yang menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada akhir pekan lalu.
Aprianto Cahyo Nugroho,Jessica Gabriela Soehandoko
Selasa, 12 Maret 2024 | 11:16
Pekerja melakukan proses pencetakan feronikel di salah satu pabrik tambang milik Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara. Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Pekerja melakukan proses pencetakan feronikel di salah satu pabrik tambang milik Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara. Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Harga komoditas logam industri seperti nikel dan tembaga mengekor pergerakan harga emas yang menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa akhir pekan lalu.

Harga emas diperdagangkan di kisaran level tertinggi hari ini karena para pelaku pasar menunggu data inflasi AS yang dapat memberikan kejelasan lebih lanjut mengenai lintasan suku bunga Federal Reserve.

Berdasarkan data Bloomberg, harga emas spot melemah 0,21% ke level US$2.178,19 per troy ounce pada pukul 10.48 WIB. Adapun harga emas berjangka Comex kontrak April 2024 melemah 0,21% ke US$2.183,90 per troy ounce.

Reli emas kehilangan tenaga setelah mencapai rekor tertinggi pada hari Jumat (8/3) di level US$2.194,99 menyusul data pasar tenaga kerja AS yang mendorong spekulasi penurunan suku bunga.

”Jika data tersebut lebih tinggi dari laporan bulan lalu, maka hal itu mungkin akan sedikit mengganggu pasar emas (dan) dapat menyebabkan beberapa tekanan jual jangka pendek", kata Analis senior Kitco Metals Jim Wyckoff seperti dikutip Reuters, Selasa (12/3).

Di sisi lain, Wyckoff menambahkan bahwa kemungkinan besar emas akan mencapai level tertinggi baru dalam waktu dekat.

Pelaku pasar memperkirakan sekitar 70% kemungkinan penurunan suku bunga pada bulan Juni 2024, menurut alat CME FedWatch.

Seperti diketahui, suku bunga rendah mendorong harga emas karena mengurangi biaya memegang emas batangan yang tidak memiliki imbal hasil.

Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury AS bertenor 10 tahun stabil di level 4,100% hari ini. Adapun indeks dolar AS yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya menguat tipis ke 102,79, setelah mencapai titik terendah dalam dua bulan di 102,33 pekan lalu.

Komoditas lain seperti nikel, juga mengikuti gerak penguatan harga emas.

Harga nikel berjangka kontrak Juni 2024 ditutup menguat 1,94% atau 350,26 poin ke level US$18.394 per metrik ton. Sementara itu, harga nikel di pasar tunai terpantau menguat 80 poin ke level US$18.394 per metrik ton.

Diketahui bahwa pejabat di Kementerian Indonesia mengatakan bahwa pihaknya kini sedang berupaya mengatasi penundaan dalam proses kuota penembangan. Dari pihak kementerian, persetujuan kuota penambangan 145 juta ton bijih nikel dan 14 juta ton bauksit telah dikeluarkan.

Para analis berpendapat bahwa lambatnya soal kuota penambangan di Indonesia mengakibatkan pasokan bijih yang berkurang dan menaikkan biaya produksi smelter. 

Terdapat juga spekulasi pada minggu lalu bahwa Amerika Serikat (AS) akan menerapkan sanksi baru pada logam rusia. Namun, paket sanksi AS yang diberikan pada Rusia pada Jumat (23/2) tidak mencakup logam.

Selain itu, lemahnya permintaan musiman dari sektor baja tahan karat juga membebani harga. Lantaran sektor tersebut merupakan konsumen utama nikel. 

Sementara itu, harga tembaga juga menguat 0,85% atau 73,50 poin ke level US$8.653 per metrik ton pada akhir perdagangan Senin (11/3). Harga timah juga menguat 44 poin ke level US$27.634 per metrik ton.

Baik nikel, tembaga, dan timah memperpanjang kenaikan minggu lalu, mengekor harga emas yang menguat ke level tertingginya dan pelemahan dolar AS.

"Harga tembaga naik jika hanya dari lingkungan yang mendukung dolar yang lebih lemah," tulis Al Munro dari Marex dalam sebuah catatan kepada investor.

Sementara itu, kepala strategi komoditas Saxo Bank A/S Ole Hansen mengatakan kenaikan tembaga sebagian besar didorong oleh teknikal dan posisi. Berlanjutnya kekhawatiran produksi di konsumen utama China juga memperketat pasar logam merah ini.

"Pabrik-pabrik peleburan di China yang mendiskusikan pemangkasan produksi untuk meningkatkan biaya pengolahan dapat membuat pasar pemurnian semakin mengetat, juga menambahkan beberapa dukungan," kata Hansen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper