Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Investor Asing Masuk, Pasar Saham dan SBN Indonesia Makin Meriah

Pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia berpotensi akan semakin dilirik oleh investor asing.
Pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia berpotensi akan semakin dilirik oleh investor asing. Bisnis/Himawan L Nugraha
Pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia berpotensi akan semakin dilirik oleh investor asing. Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia berpotensi akan semakin dilirik oleh investor asing. Bank Indonesia (BI) mencatat aliran modal asing yang masuk pada 26-27 April 2023 tembus Rp6,02 triliun.

Berdasarkan laman resmi BI, nonresiden melakukan beli neto sebesar Rp3,81 triliun di pasar SBN dan Rp2,21 triliun di pasar saham selama dua hari yakni periode 26 dan 27 April 2023.

Sedangkan sepanjang 2023, berdasarkan data setelmen hingga 27 April 2023, nonresiden melakukan beli neto Rp60,73 triliun di pasar SBN atau obligasi, dan beli neto Rp13,63 triliun di pasar saham.

Ekonom KB Valbury Sekuritas Fikri C. Permana mengatakan ke depannya pasar saham dan SBN berpotensi semakin dilirik investor asing karena pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami tren kenaikan koreksi pertumbuhan ekonomi global.

"Pertama dilihat dari ekspektasi pertumbuhan ekonomi ya, kalau melihat dari berkasnya IMF dan World Bank kan keduanya memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi global menurun tetapi untuk negara-negara Asia dan khususnya Indonesia, ekspektasi pertumbuhan ekonomi naik, jadi ini yang mendorong dana asing masuk ke Indonesia," ujar Fikri kepada Bisnis, Selasa, (2/5/2023).

Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia yang positif menjadi salah satu pendorong dana asing masuk ke Indonesia. Selain itu, risiko dari ekonomi Indonesia lebih rendah dibanding negara-negara lain, sehingga investor asing semakin melirik SBN dan pasar saham.

Tak hanya itu, pergerakan investor asing juga diperkirakan kian lincah sejalan dengan sentimen penguatan rupiah di hadapan dolar AS yang diperkirakan bakal menyentuh Rp14.500 per dolar AS.

"Menurut saya yang menjadi game changer adalah Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang diharuskan masuk ke Indonesia, jadi ini yang mendorong ekspektasi terkait dengan cadangan devisa yang naik sehingga BI bisa melakukan intervensi yang lebih baik dan stabilitas rupiah juga semakin baik," ujarnya.

Lebih lanjut Fikri mengatakan, surat utang yang paling dilirik investor asing adalah tenor jangka pendek menengah antara 5 sampai 10 tahun karena likuiditasnya baik atau mudah dicairkan.

Adapun, saham yang menjadi magnet asing adalah saham-saham big caps seperti ASII maupun bank-bank besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI.

"Selain itu juga beberapa saham yang menjadi incaran asing di sektor tambang seperti UNTR dan lain-lain yang menjadi magnet dari asing," katanya.

Mengacu sentimen pasar pada bulan ini, secara global pasar masih menunggu kenaikan suku bunga The Fed. Menurut Fikri, Federal Open Market Commitee (FOMC) digelar pada 2-3 Mei 2023 waktu Amerika Serikat (AS) akan turut mempengaruhi pasar surat utang dan saham domestik.

"Mungkin akan kami lihat dari hasil Federal Open Market Commitee (FOMC), lalu lihat dari Minutes of Meetings (MoM)-nya juga apakah mungkin ekspektasi selama ini kan ini jadi peningkatan suku bunga The Fed yang terakhir pada siklus kali ini. Jika memang ini terjadi, harapannya cost of fund global bisa turun dan risiko juga lebih turun lagi," ucapnya.

Kemudian untuk sentimen dalam negeri, pasar masih menunggu data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan segera rilis pada 5 Mei 2023.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi April 2023 sebesar 4,33 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), jauh lebih tinggi dibandingkan dengan April 2022 yakni 3,47 persen yoy. Begitu pula pada Januari dan Februari 2023.

"Data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan rilis tanggal 5 Mei 2023, saya harap ekspektasi pertumbuhan ekonomi yang berkisar 5 sampai 5,3 persen hingga akhir 2023 masih akan terjadi, dan kalau memang ini masih berada di rentang itu pada Kuartal I/2023, saya masih berharap pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa didorong lebih tinggi lagi dibanding tahun lalu," pungkas Fikri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper