Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda
Live

Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Kurang Sentimen Positif

Nilai tukar rupiah hari ini hari ini, Rabu (28/9/2022), diperkirakan bakal kembali melemah akibat kurangnya sentimen positif.
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra
Nuhansa Mikrefin Yoedo Putra - Bisnis.com 28 September 2022  |  11:20 WIB
Live
Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini Kurang Sentimen Positif
Karyawati menghitung uang rupiah di salah satu kantor cabang PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. di Jakarta, Selasa (16/8/2022). Bisnis - Arief Hermawan P
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah hari ini hari ini, Rabu (28/9/2022), diperkirakan bakal kembali melemah akibat kurangnya sentimen positif.

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp15.110 - Rp15.150.

Menurutnya indeks dolar sedikit menurun pasca menyentuh level tertinggi selama 20 tahun terakhir pada perdagangan Senin (26/9/2022). Adapun kenaikan suku bunga juga mendorong permintaan safe haven greenback yang membantu dolar sebagai pembelian safe haven pilihan tahun ini.

Ibrahim mengatakan para pelaku pasar kini fokus pada pidato Ketua Bank Sentral AS Federal Reserve Jerome Powell yang memberi sinyal lebih lanjut terkait kebijakan moneter AS. Powell disebut memberi sinyal hawkish selama pertemuan The Fed pekan lalu.

Menurut Ibrahim perlambatan perekonomian Cina tahun ini juga berdampak pada sentimen terhadap pasar di Asia. Hal ini mengingat status Cina sebagpusat perdagangan utama di kawasan Asia.

"Tetapi pertumbuhan di negara itu dapat membaik di sisa tahun ini dengan pencabutan pembatasan COVID dan langkah-langkah stimulus baru dari pemerintah," ujar Ibrahim dalam risetnya, Selasa (27/9/2022).

Lebih lanjut, Ibrahim mengatakan adanya ekspektasi akan terjadinya resesi pada tahun 2023 membuat inflasi di sejumlah negara. Hal ini memicu negara-negara maju menaikan suku bunga acuan dan memperketat likuiditas.

Adapun resesi diprediksi terjadi lantaran tingginya harga pangan dan energi di beberapa negara baik Eropa maupun AS.

"Kebijakan tersebut akan memberikan dampak pada pertumbuhan ekonomi dunia, sehingga negara berkembang pun akan merasakan efek dari kenaikan suku bunga itu," ujar Ibrahim.

Ibrahim menilai jika bank sentral seluruh dunia kompak menaikan suku bunga secara ekstrim, maka resesi tidak dapat terelakkan. Hal ini karena pertumbuhan negara-negara maju cukup cepat dan ekstrim sehingga memukul pertumbuhan negara berkembang.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah ditutup menguat 0,04 persen atau 5,5 poin sehingga parkir di posisi Rp15.124 per dolar AS. Indeks dolar AS pada pukul 15.10 WIB terpantau melemah 0,56 poin atau 0,49 persen ke level 113,54.

Sementara itu, mata uang lain di kawasan Asia terpantau serentak menguat di hadapan dolar AS. Mata uang won Korea Selatan menguat 0,61 persen, dolar Taiwan 0,42 persen, yen Jepang 0,30 persen, rupee India 0,25 persen, dolar Singapura 0,24 persen, dan baht Thailand 0,17 persen.

Kemudian mata uang kawasan Asia yang terpantau melemah adalah yuan Cina 0,28 persen, ringgit Malaysia 0,16 persen, dan peso Filipina 0,06 persen. Adapun mata uang dolar Hong Kong terpantau stagnan pada perdagangan hari ini.

11:20 WIB

Rupiah Cenderung Melemah?

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah saat ini di Rp15.236. Menurutnya ada kemungkinan rupiah dalam bulan ini tembus Rp15.400.

08:50 WIB

Perkiraan Rupiah Hari Ini

Direktur MNC Asset Management Edwin Sebayang memperkirakan rupiah bakal bergerak di Rp15.090 - Rp15.190 per dolar AS


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah Kebijakan The Fed Inflasi
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top