Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ambyar! Bitcoin Kembali Anjlok Dekati US$29.000, Terra Luna Kian Melorot

Secara teknikal, Bitcoin sekarang perlu menahan posisi US$28.000. Jika turun menembus level itu, maka bisa memicu gelombang aksi jual investor yang baru.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 11 Mei 2022  |  21:48 WIB
Ilustrasi Bitcoin - Bloomberg
Ilustrasi Bitcoin - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga Bitcoin kembali longsor ke bawah US$30.000, mencerminkan level terendah sejak Juni 2021. Sementara itu nilai stablecoin TerraUSD juga terus melorot.

Mengutip Bloomberg, Rabu (11/05/2022), nilai pasar Bitcoin sempat turun lebih dari 6 persen pada satu titik hari ini untuk diperdagangkan pada level US$29.085. Posisi tersebut hampir terendah dalam 11 bulan.

Analis telah mengamati level US$30.000 sebagai ambang batas utama, dengan banyak yang memproyeksikan bahwa pelemahan dapat terus berlanjut.

Sementara itu, stablecoin algoritmik TerraUSD terus menurun, diperdagangkan kurang dari 30 sen. Investor pendukung TerraUSD, Cashaa mencoba mengumpulkan sekitar US$1,5 miliar untuk menopang atau stabilisasi harga TerraUSD.

“Bitcoin dan kripto telah menjadi perdagangan risk-on/risk-off tahun ini dan data indeks harga konsumen AS adalah pengembangan risk-off,” kata Matt Maley, kepala strategi pasar di Miller Tabak + Co.

Sementara itu, kejatuhan TerraUSD bisa dilihat sebagai bentuk kehilangan kepercayaan investor.

Lebih jauh, aset kripto lainnya juga turun, dengan harga Bitcoin Cash melemah lebih dari 11 persen dan Dash turun hampir 16 persen.

Penurunan ini terjadi setelah data menunjukkan harga konsumen AS naik lebih dari perkiraan pada April 2022, menunjukkan inflasi akan bertahan pada tingkat yang lebih tinggi. Data juga menunjukkan Federal Reserve akan tetap berada di jalur kenaikan suku bunga yang agresif.

“Ada ketakutan ekstrem di pasar kripto,” kata Marcus Sotiriou, analis di pialang aset digital GlobalBlock yang berbasis di Inggris.

“Selain hambatan makro yang sedang berlangsung, sekarang ada risiko mendasar bagi industri kripto karena stablecoin UST telah bergeser jauh dari US$1,” tambahnya.

Mata uang kripto dan aset berisiko lainnya berada di bawah tekanan sepanjang tahun ini. Federal Reserve dan bank sentral lainnya menaikkan suku bunga untuk melawan lonjakan inflasi, alhasil menciptakan lingkungan yang tidak menguntungkan untuk aset berisiko.

“Area sekitar $30.000 telah menjadi zona yang sangat sensitif untuk Bitcoin,” tulis James Malcolm, kepala penelitian valuta asing dan kripto di UBS.

Indeks Kekuatan Relatif Bitcoin sekarang berada di level 21, menunjukkan bahwa posisi tersebut adalah yang paling oversold sejak Januari 2022. Secara teknikal, Bitcoin sekarang perlu menahan posisi US$28.000. Jika turun menembus level itu, maka bisa memicu gelombang aksi jual investor yang baru.

Namun, banyak investor kripto, yang menyadari fakta bahwa Bitcoin telah melalui siklus boom-and-bust sebelumnya hanya untuk menutup kerugian berulang kali. Ini mengajarkan soal kesabaran dalam berinvestasi.

“Pada akhirnya setiap investor perlu mengukur posisi berdasarkan tingkat risiko dan cakrawala waktu mereka. Kami percaya Bitcoin akan pulih dan kami masih dalam tahap awal dari era internet baru yang bernilai ini. Tetap tenang dan HODL [hold on for dear life] ,” kata Alex Tapscott, direktur pelaksana grup aset digital di Ninepoint Partners.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bitcoin cryptocurrency mata uang kripto aset kripto

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top