Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pengembangan Smelter Alumina Inalum-Antam Molor, Ini Penyebabnya

Proyek smelter alumina Inalum-Antam yang ditargetkan rampung pada Juli 2023 itu realisasi progres pembangunannya dalam dua tahun berjalan baru mencapai 13,78 persen dari rencana 71,73 persen.
Suasana lokasi yang dicanangkan untuk pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Desa Bukit Batu, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (4/4/2019)./ANTARA-Jessica Helena Wuysang
Suasana lokasi yang dicanangkan untuk pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Desa Bukit Batu, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Kamis (4/4/2019)./ANTARA-Jessica Helena Wuysang

Bisnis.com, JaKARTA - Pengembangan smelter alumina Inalum dan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) atau Antam molor dari target akibat sejumlah kendala.

Proyek smelter dimiliki dan dikelola oleh PT Borneo Alumina Indonesia (BAI) dengan porsi 60 persen sahamnya dimiliki oleh Inalum dan 40 persen dimiliki oleh Antam.

Saat ini, proyek yang ditargetkan rampung pada Juli 2023 itu realisasi progres pembangunannya dalam dua tahun berjalan baru mencapai 13,78 persen dari rencana 71,73 persen.

Direktur Utama Borneo Alumina Indonesia Dante Sinaga mengatakan ada dua kendala yang menyebabkan proyek smelter itu molor. Pertama, belum ada kesepakatan kontrak antara Chalieco yang merupakan BUMN China dengan PT Pembangunan Perusahaan (Persero) atau PTPP.

"Sampai saat ini final consortium agreement itu belum mereka tandatangani. Ada hal-hal yang belum mereka sepakati, sehingga membuat proyek ini lambat sekali majunya. Jadi sekarang yang dilakukan konsorsium EPC, yaitu Chalieco dan PTPP itu adalah sebatas down payment yang sudah kami bayarkan, yaitu sebesar 10 persen," kata Dante, mengutip dari Antara, Selasa (22/3/2022).

Kendala kedua, akibat tanah gambut di lokasi pengolahan limbah B3 yang dihasilkan oleh smelter, sehingga harus berpindah ke lokasi tanah keras.

Direktur Hubungan Kelembagaan MIND ID Dany Amrul Ichdan mengatakan Inalum saat ini mengalami ketergantungan impor alumina sebanyak 500 ribu ton per tahun, sehingga sangat membutuhkan smelter tersebut.

"Selama ini kita impor dari India dan Australia. Jadi, kita akan semakin terus tergantung sampai smelter ini selesai," ujar Dany.

Dany menjelaskan smelter itu memiliki kapasitas produksi mencapai satu juta ton per tahun, sehingga mampu memenuhi kebutuhan Inalum sebesar 500.000 ton dan sisanya 500.000 ton bisa dijual ke luar negeri.

"Kapasitas smelter alumina yang ada di Mempawah adalah satu juta ton. Berarti 500.000 ton akan cukup untuk memenuhi kebutuhan Inalum dan 500.000 ton kita bisa ekspor, sehingga kebutuhan dari smelter alumina juga bisa dijalankan termasuk juga offtaker bauksit," jelasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Hafiyyan
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper