Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bitcoin Bakal Tetap Bullish pada 2022, Tapi...

Harga Bitcoin masih berpotensi menguat lebih jauh pada tahun ini. Hal tersebut seiring dengan popularitas kelas aset ini yang semakin besar baik secara global maupun di Indonesia.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 05 Januari 2022  |  17:37 WIB
Ilustrasi aset kripto Bitcoin - Freepik
Ilustrasi aset kripto Bitcoin - Freepik

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan harga Bitcoin diprediksi tetap bullish pada tahun ini seiring dengan kenaikan minat investor. Kendati demikian, peluang Bitcoin menembus level harga US$100.000 cukup sulit seiring dengan potensi kemunculan aset-aset kripto baru.

Komisaris Utama PT HFX Internasional Berjangka Sutopo Widodo menyebutkan, harga Bitcoin masih berpotensi menguat lebih jauh pada tahun ini. Hal tersebut seiring dengan popularitas kelas aset ini yang semakin besar baik secara global maupun di Indonesia.

Meski demikian, peluang Bitcoin menembus level harga US$100.000 pada 2022 akan cukup berat. Ia mengatakan, secara teknikal rentang perdagangan beberapa tahun belakangan berhasil ditembus pada tahun lalu.

Sutopo mengatakan, hal tersebut tidak berarti Bitcoin dapat menembus level US$100.000. Kemunculan aset-aset kripto alternatif atau alternative coin (altcoin) yang diproyeksi semakin marak tahun ini akan kian memecah kapitalisasi pasar kripto.

“Untuk sementara berdasarkan analisa kami, harga Bitcoin pada 2022 ditargetkan pada kisaran US$78.000,” katanya saat dihubungi pada Rabu (5/1/2022).

Sutopo melanjutkan, ke depannya pasar kripto akan terus berkembang seiring dengan kemunculan pemain-pemain serta koin-koin alternatif baru.  Hal ini akan menambah opsi baik bagi pelaku pasar maupun investor yang tertarik masuk ke kelas aset ini.

Adapun, pada awal tahun 2022, Sutopo memprediksi harga Bitcoin akan bergerak pada rentang US$40.000 – US$60.000.

Ia menjelaskan, harga Bitcoin akan berkinerja baik selama periode pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Sentimen ini seringkali bertepatan dengan suku bunga jangka panjang yang lebih tinggi.

Sementara, perlambatan pertumbuhan dan latar belakang disinflasi akan menekan pergerakan Bitcoin. Ia menambahkan, pola pergerakan Bitcoin serupa dengan pergerakan pasar saham yang cenderung tertekan saat pertumbuhan ekonomi melambat.

Sementara itu, Sutopo menambahkan investor yang berminat membeli Bitcoin dapat memilih sejumlah strategi. Pertama, investor dapat melakukan trading dengan membeli saat harganya sedang turun atau buy on weakness.

Kedua, investor dapat membeli Bitcoin secara rutin dan bertahap tiap bulan. Dengan demikian, investor akan mendapatkan harga rata-rata yang optimal.

Sebelumnya, Senior Commodity Strategist Bloomberg Intelligence, Mike McGlone dalam Global Cryptocurrencies 2022 Outlook edisi Desember 2021 yang dirilis Bloomberg menyebutkan, tren koreksi Bitcoin yang terjadi saat ini secara fundamental masih menunjukkan pola bullish. Hal ini diprediksi akan menjadi bantalan bagi Bitcoin untuk menguat pada tahun depan.

Riset tersebut menyebutkan, pergerakan harga Bitcoin dinilai mampu melewati sentimen pelarangan penambangan aset kripto oleh pemerintah China dan konsumsi energi yang tidak efisien melalui aktivitas penambangan (mining). Hal tersebut terlihat dari pemulihan harga yang terjadi setelah mengalami koreksi signifikan hingga ke kisaran US$30.000 pada Juli lalu.

“Mayoritas aktivitas penambangan telah berpindah ke lokasi yang lebih aman di AS dan Kanada. Sementara itu, penggunaan energi terdesentralisasi juga mengindikasikan kekuatan Bitcoin,” ujar McGlone dikutip dari risetnya.

Ia menyebutkan, pertanyaan kunci yang dihadapi Bitcoin pada awal tahun ini adalah apakah pergerakan harga kripto tertua tersebut akan menyentuh puncaknya atau hanya sekadar fase konsolidasi untuk bergerak bullish ke depannya.

“Kami mempercayai Bitcoin sedang terkonsolidasi untuk bergerak lebih bullish. Saat ini, Bitcoin sedang dalam prosesnya untuk menjadi aset digital yang menjadi jaminan di pasar dunia,” jelasnya.

Seiring dengan hal tersebut, McGlone menyebutkan level support utama Bitcoin berada di US$ 50.000 dan titik resistance di US$ 100.000 pada tahun 2022.

Menurutnya, pergerakan Bitcoin menuju level US$100.000 hanya tinggal masalah waktu. Hal ini seiring dengan banyaknya sentimen positif untuk Bitcoin, mulai dari adopsi ke bursa arus utama hingga menjadi alat pembayaran sah di El Salvador.

Adapun sebelum dapat menguji level US$100.000, McGlone menetapkan level support awal harga Bitcoin di kisaran US$40.000 pada 2022. Sementara, level resistance awal ditetapkan pada rentang US$70.000.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bitcoin cryptocurrency aset kripto
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top