Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

CVC BUMN Siapkan Merah Putih Funding Kedua dan Ketiga pada 2022

5 Corporate Venture Capital yang terlibat di awal pembentukan Merah Putih Funding, yakni Mandiri Capital Indonesia, MDI Ventures, Telkomsel Mitra Inovasi, BRI Ventures, dan BNI.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 16 Desember 2021  |  16:44 WIB
Menteri BUMN Erick Thohir saat menghadiri peresmian Gerakan Akselerasi Generasi Digital di Jakarta Convention Center yang disiarkan secara daring, Rabu (15/12/2021). - Istimewa
Menteri BUMN Erick Thohir saat menghadiri peresmian Gerakan Akselerasi Generasi Digital di Jakarta Convention Center yang disiarkan secara daring, Rabu (15/12/2021). - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Kementerian BUMN membentuk Merah Putih Funding, pendanaan bersama untuk mendanai bisnis rintisan tersebut sudah merampungkan pendanaan putaran pertama senilai US$300 juta atau setara Rp4,29 triliun (kurs Rp14.300). Selanjutnnya, pendanaan putaran kedua dan ketiga pun disiapkan.

Merah Putih Fund (MPF) adalah pendanaan bersama 5 fund manager atau corporate venture capital (CVC) anak usaha BUMN yang bertujuan untuk mengembangkan potensi bisnis rintisan di Indonesia.

Sebanyak 5 Corporate Venture Capital yang terlibat di awal pembentukan dana kelolaan ini, yakni Mandiri Capital Indonesia, MDI Ventures, Telkomsel Mitra Inovasi, BRI Ventures, dan BNI.

Direktur Utama Mandiri Capital Eddi Danusaputro menjelaskan setiap CVC bertindak sebagai co-funding manager yang secara kolektif menjadi manajer pendanaan dan melakukan keputusan investasi bersama.

"Pada kuartal I/2022 dan kuartal II/2022, kami akan merampungkan first close senilai US$300 juta yang sudah berjalan. Hal ini secara paralel juga melakukan pengumpulan dana atau fundraising kedua dan ketiga," jelasnya kepada Bisnis, Kamis (16/12/2021).

Sebagai bagian dari komite MPV, Eddi sudah memetakan sejumlah sektor yang dapat disasar oleh pencari startup soonicorn (soon to be unicorn) ini, seperti sektor e-commerce, teknologi finansial, pendidikan, dan kesehatan.

Lebih lanjut, yang terpenting terangnya wajib memenuhi tiga kriteria utama, yakni pendirinya orang asli Indonesia, perusahaannya berdomisili di Indonesia sehingga bayar pajak ke negara, dan bisnis rintisan tersebut memiliki peta jalan untuk melantai di pasar modal alias initial public offering (IPO) di Indonesia.

Eddi bercerita belum ada startup yang pasti akan didanai oleh MPV karena proyek tersebut baru akan dilaksanakan pada 2022. Pendanaan startup ini juga tidak menargetkan jumlah yang akan didanai.

"Average take size belum, investasi per tahun juga belum ada target, kami kejar kualitas sehingga nantinya case by case. kami tidak mau memasang target," urainya.

Menurutnya, pada pendanaan putaran pertama senilai US$300 juta tersebut sepenuhnya berasal dari BUMN. Selanjutnya, pendanaan putaran kedua dan ketiga akan terbuka bagi swasta nasional untuk turut serta mendanai.

Dia juga menegaskan sebagai Komite bersama, MPV tidak akan melantai di pasar modal, melainkan startup yang didanainya yang akan diarahkan agar dapat melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Sejalan dengan itu, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. akan melanjutkan perburuan perusahaan rintisan potensial pada tahun depan.

Jika pandemi Covid-19 membaik dibandingkan dengan 2021, perusahaan telekomunikasi pelat merah tersebut akan menggelontorkan triliunan rupiah kepada perusahaan rintisan.

“Pada tahun ini kami menggelontorkan triliunan rupiah [untuk startup] dan tahun depan kemungkinan akan triliunan rupiah juga,” kata Direktur Digital Business Telkom Muhamad Fajrin Rasyid dalam acara Bisnis Indonesia Business Challanges, Kamis (16/12).

Fajrin menjelaskan perseroan terbuka berinvestasi ke perusahaan rintisan. Fajrin belum dapat memberi tahu berapa banyak perusahaan rintisan yang akan didanai oleh Telkom, melalui anak usaha mereka.

Pendanaan yang diberikan tergantung dari kondisi iklim perusahaan rintisan pada 2022.

“Jika misalnya tahun depan kondisi startup makin baik, mungkin kami akan berinvestasi dalam jumlah yang lebih besar,” kata Fajrin.

Sebagai gambaran, MDI Ventures sebagai perusahaan modal ventura milik Telkom, secara total telah berinvestasi ke lebih dari 50 perusahaan rintisan. Khusus untuk 2021, jumlah perusahaan rintisan yang didanai mencapai 10 perusahaan.

Hal tersebut menandakan jika kondisi ekosistem startup pada tahun depan makin matang, maka terbuka peluang jumlah startup yang mendapat kucuran dana Telkom lebih dari 10 perusahaan rintisan.

“Tahun depan kami berharap pandemi Covid-19 semakin mereda dan itu akan membuat kondisi iklim startup makin kondusif dan lebih banyak startup yang baru, yang akan bermunculan,” kata Fajrin.

Sementara itu jika kondisinya memburuk, karena muncul gelombang baru Covid-19 dan lain sebagainya, itu akan mempengaruhi iklim perusahaan rintisan, termasuk rencana Telkom dalam berinvestasi ke startup.

Emiten berkode TLKM ini memiliki dua anak usaha yang fokus pada pendanaan startup yakni Indigo dan MDI Ventures.

Perbedaannya, Indigo bakal fokus pada bisnis rintisan yang masih berada di fase paling awal, berperan sebagai akselerator dan inkubator, termasuk bagi bisnis rintisan yang masih tahap ide maupun baru prototipe.

Sementara itu, MDI Ventures mencari startup yang sudah berada di fase pertumbuhan dan membutuhkan pendanaan tambahan, seperti jenis bisnis rintisan yang sudah masuk fase soonicorn.

"Growth stage yang butuh funding di angka jutaan dolar AS, kalau yang Indigo ini mungkin yang baru butuh dana ribuan dolar AS," terangnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kementerian bumn StartUp investasi startup Unicorn
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top