Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bursa Asia Turun Karena Meningkatnya Kekhawatiran Inflasi Amerika Serikat

Mengutip Bloomberg, pengukur saham regional kemudian menghapus kenaikan bursa Asia tahun ini. Meskipun penurunan indeks dari Jepang hingga Australia sejauh ini belum menyamai kemunduran indeks dalam semalam. 
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 13 Mei 2021  |  15:50 WIB
Bursa Asia -  Bloomberg.
Bursa Asia - Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa Asia terpantau melemah pada hari ini Kamis (13/5/2021), setelah kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS) membawa indeks SP 500 jatuh serta mendorong imbal hasil obligasi lebih tinggi di tengah kekhawatiran tekanan harga dapat menghambat pemulihan ekonomi Amerika. 

Mengutip Bloomberg, pengukur saham regional kemudian menghapus kenaikan bursa Asia tahun ini. Meskipun penurunan indeks dari Jepang hingga Australia sejauh ini belum menyamai kemunduran indeks dalam semalam. 

Kontrak berjangka atau obligasi AS mengalami kenaikan sehingga bursa SP 500 dan Nasdaq 100 keduanya merosot lebih dari 2 persen dalam kerugian tiga hari berturut-turut. Sementara sektor energi menjadi satu-satunya pemenang karena harga komoditas terus naik.

Yield obligasi AS bergerak naik secara stabil di perdagangan AS, yang mengangkat permintaan yang kuat pada lelang surat utang 10-tahun yang baru. Penurunan harga baru-baru ini kemungkinan telah memicu minat yang sama untuk obligasi 30 tahun dalam penjualan hari ini. Sedangkan investasi obligasi di bursa Asia merosot, sedangkan nilai tukar dolar menahan kenaikan.

Sementara itu, Bitcoin merosot sebanyak 15 persen dan kini beradai di bawah US$50.000 setelah Elon Musk men-tweet bahwa Tesla Inc. telah menangguhkan pembelian kendaraan menggunakan mata uang digital karena masalah lingkungan. Dia menambahkan bahwa Tesla tidak akan menjual Bitcoin apa pun.

Data harga konsumen AS terbaru menunjukkan kenaikan bulanan terbesar sejak 2009, menambah perdebatan apakah inflasi akan cukup gigih untuk memaksa Federal Reserve memperketat kebijakan lebih cepat dari yang diperkirakan.

Selain itu, angka mengejutkan juga terdapat pada tekanan harga berbasis luas, dan pengukur ekspektasi inflasi pasar selama lima tahun ke depan menyentuh level tertinggi sejak 2005 sebelum pelonggaran.

Wakil Ketua Federal Reserve Richard Clarida mengatakan dia terkejut dengan lompatan itu, tetapi data tersebut seharusnya menjadi bukti bahwa sebagian besar inflasi bersifat sementara.

“Pasar telah kehilangan sedikit kepercayaan bahwa Fed memiliki kendali atas inflasi. Saya tidak berpikir itu selalu levelnya," ungkap Victoria Fernandez, kepala strategi pasar Crossmark Global Investments dikutip Bloomberg pada Kamis (13/5/2021).

Namun menurutnya ada kekhawatiran bahwa bank sentral mungkin menunggu terlalu lama untuk mengatasi kenaikan tersebut. Fernandez mengatakan, tidak yakin bahwa pasar nyaman dengan hal itu saat ini.

Di sisi lain, momentum di pasar komoditas tampaknya melambat untuk saat ini. Reli yang membara pada bijih besi dan tembaga terhenti di tengah kekhawatiran tentang dampak inflasi pada prospek pertumbuhan global. 

Harga minyak mundur kembali ke US$ 65 per barel, karena pipa bensin terbesar di AS dibuka kembali setelah serangan siber yang memicu kekurangan bahan bakar akut.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia bitcoin tesla
Editor : Ropesta Sitorus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top