Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Brasil Dilanda Kekeringan, Harga Jagung Cetak Rekor Tertinggi

Harga komoditas jagung mencatatkan rekor harga tertinggi sejak 2013, yang diiringi reli sejumlah komoditas biji-bijian lain seperti biji kedelai dan gandum.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 06 Mei 2021  |  17:02 WIB
Harga jagung naik menyentuh level tertinggi dalam delapan tahun. (Bloomberg)
Harga jagung naik menyentuh level tertinggi dalam delapan tahun. (Bloomberg)

Bisnis.com, JAKARTA – Komoditas jagung mencatatkan rekor harga tertinggi sejak 2013 seiring dengan musim kering di Brasil memicu kekhawatiran terhadap kelangkaan pasokan global.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (6/5/2021), harga jagung berjangka dengan kontrak teraktif di Chicago sempat naik hingga 2,2 persen pada level US$7,12 per bushel, atau harga tertinggi sejak Maret 2013 lalu.

Adapaun reli harga jagung turut diikuti sejumlah komoditas biji-bijian lain seperti biji kedelai dan gandumejumlah komoditas biji-bijian lain seperti biji kedelai dan gandum. Hal tersebut juga memicu Bloomberg Commodity Index pada level tertingginya dalam 1 dekade terakhir.

Harga biji kedelai terpantau menguat pada level US$15,4225 per bushel, atau harga tertingginya sejak November 2012. Sementara, harga gandum ditutup pada level US$7,445 per bushel, tertinggi sejak Maret 2013.

Salah satu katalis kelanjutan reli harga jagung adalah prospek penurunan pasokan dari eksportir nomor 2 di dunia, Brasil. Laporan dari aWhere Inc menyebutkan, cuaca kering akan melanda daerah penanaman jagung di Brasil selama 15 hari ke depan.

Cuaca di Brasil akan menjadi hal penting dalam beberapa pekan mendatang menjelang musim panen. Laporan tersebut menjelaskan, setelah cuaca kering selama 30 hari, 88 persen dari bibit jagung yang tertanam memiliki kandungan air dibawah standar untuk menghasilkan panen yang optimal.

Sebelumnya, Fitch Solutions menyebutkan harga jagung akan bergerak lebih tinggi pada tahun ini seiring dengan menurunnya jumlah panen pada negara-negara produsen.

Dalam laporannya, Fitch Solutions memaparkan, pasar akan mengalami defisit pasokan sebesar 20 juta ton pada musim 2020/2021. Defisit tersebut kemudian akan berbalik menjadi surplus sebesar 15 juta ton pada musim 2021/2022 dan mencapai 24 juta ton pada musim 2024/2025.

Fitch Solutions menetapkan kisaran harga jagung terbaru untuk tahun 2021 pada US$5,25 per bushel. Sementara itu, harga pada tahun 2022 diproyeksikan di level US$4,75 per bushel sebelum melemah secara moderat hingga 2025 mendatang.

“Meskipun produksi akan meningkat pada 2021/2022, harga jagung akan tetap tinggi seiring dengan pulihnya permintaan industri dan impor dari China yang tetap tinggi,” demikian kutipan laporan tersebut.

Adapun, Fitch Solutions mengatakan, dalam jangka pendek, pergerakan harga jagung akan ditopang oleh sentimen cuaca yang mempengaruhi proses penanaman jagung di Amerika Selatan serta proyeksi penanaman di AS.

Dalam beberapa pekan mendatang, harga jagung diperkirakan bergerak fluktuatif. Hal tersebut seiring dengan sikap pasar yang menunggu perkembangan kondisi ternak di China menyusul kasus penyebaran flu babi Afrika.

“Pasar juga akan memantau kondisi cuaca di belahan bumi utara dimana musim penanaman jagung 2021/2022 dimulai,” demikian kutipan laporan tersebut.

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas harga jagung

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top