Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Akhirnya Harga Emas Tembus US$1.800, Tertinggi Sejak 2011

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (8/7/2020) hingga pukul 20.16 WIB harga emas di pasar spot bergerak menguat 0,7 persen ke level US$1.807,39 per troy ounce, level tertinggi emas sejak 2011.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 08 Juli 2020  |  20:53 WIB
Emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk. - mind.id
Emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk. - mind.id

Bisnis.com, JAKARTA - Harga emas berhasil bergerak di kisaran US$1.800 per troy ounce, level yang belum pernah dihinggapi emas sejak 8 tahun lalu.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Rabu (8/7/2020) hingga pukul 20.16 WIB harga emas di pasar spot bergerak menguat 0,7 persen ke level US$1.807,39 per troy ounce, level tertinggi emas sejak 2011.

Sementara itu, harga emas berjangka untuk kontrak Agustus 2020 di bursa Comex bergerak naik 0,5 persen ke level US$1.818,9 per troy ounce.

Dengan demikian, sepanjang tahun berjalan 2020 harga telah bergerak menguat hingga 19,12 persen.

Kepala Analis Pasar EMEA dan Asia StoneX Group Rhona O’Connell mengatakan bahwa kekhawatiran pasar terhadap masih berlangsungnya pandemi Covid-19 dan bahkan di beberapa negara menunjukkan sinyal adanya penyebaran gelombang kedua telah meningkat.

“Dengan ketidakpastian itu, pelaku pasar mulai terus berpihak terhadap emas,” ujar Rhona seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (8/7/2020).

Di sisi lain, sebelumnya Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Suabi menilai reli penguatan emas diperkirakan akan terganjal oleh prospek perbaikan ekonomi pasca penerapan New Normal.

Dia pesimistis emas akan menyentuh level US$2.000 per troy ounce dalam jangka panjang seiring dengan potensi pemulihan ekonomi sehingga membuat investor mulai kembali memilih instrumen seperti obligasi dan saham dibanding emas.

Selain itu, dia menilai persaingan penemuan vaksin ataupun antivirus corona di dunia juga kian positif. Hal ini juga akan menumbuhkan optimisme pasar terhadap ekonomi, tetapi sekaligus melunturkan kilau emas.

“Kondisi-kondisi ini lah yang akan mengganggu emas menuju level US$2.000, kalau sudah sampai US$1.900-an saja sudah bagus sekali, karena tarik menarik virus corona dan obat penawarnya ini kuat sekali,” katanya kepada Bisnis, pekan lalu.

Dengan demikian, dia memprediksi harga emas masih akan menguat dalam waktu terbatas. Hingga kuartal III/2020, diperkirakan harga emas dapat mendekati US$1.900 per troy ounce, tetapi pada akhir tahun akan turun ke kisaran US$1.700 per troy ounce.

Sebelumnya pada Juni 2020, Goldman Sachs menilai suku bunga acuan AS yang bisa turun ke area negatif dan yield obligasi tenor panjang yang tidak lagi menarik akan mendorong investor untuk beralih ke emas sebagai aset investasi yang aman.

Belum lagi, adanya kekhawatiran penurunan nilai mata uang dan potensi lonjakan inflasi yang juga akan menjadi katalis positif bagi harga emas.

Oleh karena itu, Goldman Sachs pun memperkirakan emas bakal mencapai rekor baru di posisi US$2.000 per troy ounce dalam 12 bulan ke depan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

emas Harga Emas Hari Ini Virus Corona
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top