Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Efek Kerja Remote, Penjualan Microsoft Naik 15 Persen di Tengah Krisis Corona

Microsoft Corp. melaporkan peningkatan penjualan dan laba pada kuartal pertama.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 30 April 2020  |  08:14 WIB
Logo Microsoft terlihat dengan latar awan di Los Angeles, Amerika Serikat pada 14 Juni 2016 - REUTERS/Lucy Nicholson
Logo Microsoft terlihat dengan latar awan di Los Angeles, Amerika Serikat pada 14 Juni 2016 - REUTERS/Lucy Nicholson

Bisnis.com, JAKARTA – Satu lagi perusahaan teknologi yang membawa kabar gembira untuk pasar di tengah krisis pandemi virus corona (Covid-19). Microsoft Corp. melaporkan peningkatan penjualan dan laba pada kuartal pertama.

Dalam pernyataan yang dirilis pada Rabu (29/4/2020), perusahaan mengatakan raihan laba pada kuartal I/2020 naik menjadi US$10,8 miliar, atau US$1,40 per saham. Sementara itu, penjualan meningkat 15 persen menjadi US$35 miliar.

Peningkatan tersebut didukung oleh permintaan untuk perangkat lunak berbasis internet dan layanan cloud yang diperlukan guna mengakomodasi peralihan untuk kerja jarak jauh (remote working) selama krisis virus corona.

Capaian yang ditorehkan raksasa software dunia ini melampaui estimasi rata-rata para analis untuk laba sebesar US$1,28 per saham dan penjualan sebesar US$33,7 miliar, menurut data yang dihimpun oleh Bloomberg.

Menyusul laporan tersebut, saham Microsoft naik sekitar 2,5 persen dalam extended trading, setelah ditutup di level US$177,43 di New York. Saham perusahaan telah menguat lebih dari 13 persen sepanjang 2020.

Microsoft mampu berkembang selama pandemi Covid-19 karena fokusnya pada penawaran layanan cloud, seperti alat produktivitas Office, layanan Azure, dan program berlangganan yang kurang rentan terhadap kemerosotan belanja.

Bahkan perangkat lunak PC Windows dan unit perangkat Surface mengalami kinerja lebih baik dari yang diproyeksikan perusahaan, berkat pelonggaran gangguan rantai pasokan di China ketika pekerja mulai menimbun peralatan baru pada bulan Maret untuk perlengkapan kantor di rumah.

“Pendapatan Microsoft lebih sedikit sentris-konsumen dan jauh lebih berulang. Ketika berlangganan, Anda memiliki pola pikir bayarlah atau tidak mendapatkan barang,” ujar Mark Moerdler, seorang analis di Sanford C. Bernstein & Co., dikutip dari Bloomberg, Kamis (30/4/2020).

Tetap saja, beberapa bagian bisnis merasakan dampak virus mematikan tersebut. Gangguan dalam pembuatan peralatan teknologi dan komponen di China menyebabkan Microsoft tidak dapat memperluas pusat data cloud sebanyak yang direncanakan.

“Ini mengarah pada beberapa kekurangan kapasitas untuk pelanggan cloud Azure dan Office,” ungkap Chief Financial Officer Amy Hood dalam sebuah wawancara.

Problem di China kini telah membaik dan Microsoft berharap akan meningkatkan pengeluaran modal untuk mendorong layanan cloud-nya, sehingga mengurangi kendala kapasitas pada akhir kuartal saat ini.

Kekhawatiran lain mungkin bertahan lebih lama. Ketika banyak individu dan bisnis berskala lebih kecil terdampak penutupan, kehilangan pekerjaan dan pergolakan ekonomi pada bulan Maret, Microsoft melihat perlambatan dalam satu kali pembelian perangkat lunak.

Jaringan sosial perusahaan LinkedIn dan situs web pencarian pekerjaan milik perusahaan juga terdampak di tengah kurangnya pengeluaran iklan secara umum, serta kelangkaan lowongan pekerjaan yang biasanya mendorong penggunaan situs tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

microsoft covid-19
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top