Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pengerjaan Proyek RS Darurat Corona di Wisma Atlet Gunakan Skema Klaim

Skema klaim membuat kontraktor diminta untuk menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu.
Ilman A. Sudarwan
Ilman A. Sudarwan - Bisnis.com 26 Maret 2020  |  13:13 WIB
Ruang instalasi gawat darurat di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Presiden Joko Widodo yang telah melakukan peninjauan tempat ini memastikan bahwa rumah sakit darurat ini siap digunakan untuk karantina dan perawatan pasien Covid-19. Wisma Atlet ini memiliki kapasitas 24 ribu orang, sedangkan saat ini sudah disiapkan untuk tiga ribu pasien. ANTARA FOTO/Kompas/Heru Sri Kumoro - Pool
Ruang instalasi gawat darurat di Rumah Sakit Darurat Penanganan COVID-19 Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Senin (23/3/2020). Presiden Joko Widodo yang telah melakukan peninjauan tempat ini memastikan bahwa rumah sakit darurat ini siap digunakan untuk karantina dan perawatan pasien Covid-19. Wisma Atlet ini memiliki kapasitas 24 ribu orang, sedangkan saat ini sudah disiapkan untuk tiga ribu pasien. ANTARA FOTO/Kompas/Heru Sri Kumoro - Pool

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan konstruksi milik negara melansir penugasan renovasi Wisma Atlet untuk Rumah Sakit Darurat Covid-19 menggunakan skema klaim. Wisma Atlet diperkirakan bisa menampung hingga ribuan pasien yang terpapar virus corona.

Sekretaris Perusahaan PT Adhi Karya (Persero) Tbk. Parwanto Noegroho menuturkan skema klaim membuat kontraktor diminta menyelesaikan proyek terlebih dahulu sebelum mendapatkan pembayaran.

“Proyek Covid-19 dan bencana alam selama ini dilakukan dengan penunjukan dari Pemerintah dengan skema klaim, di mana kontraktor diminta untuk menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu,” katanya kepada Bisnis, Kamis (26/3/2020).

Dia mengatakan dalam proyek tersebut perseroan mendapatkan tugas untuk pembersihan dan persiapan Tower 1 dan Tower 2 Wisma Atlet sebagai RS Darurat Corona. Perseroan mengerahkan sedikitnya 200 pekerja untuk menyelesaikan proyek ini.

Dia menuturkan pengerjaan proyek itu dilakukan selama 24 jam sehari tanpa henti, dengan pembagian kerja ke dalam tiga shift. Pekerjaan terdiri dari pembersihan, persiapan lokasi, hingga persiapan peralatan medis dan kebutuhan operasional pasien dan tenaga medis.

“Seluruh pekerja maksimal melakukan pekerjaan dengan tetap menerapkan protokol pencegahan virus dan selalu menjaga kesehatan,” ujarnya.

Emiten berkode saham ADHI ini menjadi salah satu dari enam perusahaan BUMN karya yang menggarap proyek tersebut. Adapun, lima kontraktor pelat merah lainnya adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk., PT Waskita Karya (Persero) Tbk., PT PP (Persero) Tbk., PT Brantas Abipraya (Persero), dan PT Nindya Karya (Persero).

Wisma Atlet sendiri terdiri atas 10 tower yang dibagi dalam dua blok. Tiga tower di Blok C-2 memiliki luas 135.000 meter persegi dan tujuh tower di Blok D-10 seluas 333.700 meter persegi.

Pada 2018 lalu, 10 tower Wisma Atlet dibangun oleh Satuan Kerja Pengembangan Perumahan Direktorat Rumah Susun Direktorat Jenderal Penyediaan Perumahan Kementerian PUPR. Blok C-2 memiliki total unit sebanyak 1.932 unit dan Blok D-10 memiliki 5.494 unit.

Pada Januari lalu Kementerian PUPR juga telah menyerahkan Wisma Atlet Blok D-10 sebagai aset negara ke Kementerian Sekretariat Negara. Empat dari 10 gedung di ini dijadikan rumah sakit bagi pasien Covid-19 dan fasilitas untuk para petugas medis dan relawan mulai Senin (23/2/2020).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

BUMN Virus Corona WISMA ATLET
Editor : Rivki Maulana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top