Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Virus Corona Bikin IHSG Babak Belur dalam Sepekan

Penurunan IHSG dipicu sikap investor yang melakukan aksi jual karena khawatir akan dampak penyebaran virus corona. Tren penurunan indeks juga terjadi di banyak negara.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 28 Februari 2020  |  19:02 WIB
Karyawan melewati monitor pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Plaza Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (24/1/2020). - ANTARA / Aprillio Akbar
Karyawan melewati monitor pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Plaza Bank Mandiri, Jakarta, Jumat (24/1/2020). - ANTARA / Aprillio Akbar

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja pasar saham domestik babak belur dalam sepekan. Aksi panic selling bahkan terjadi dalam dua terakhir. Kekhawatiran akan dampak dari penyebaran virus corona menjadi penyebab utama.

Pada perdagangan hari ini, Jumat (28/2/2020),  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 1,50 persen atau 82,99 poin ke level 5.452,70, level terendah sejak Maret 2017.

Pada perdagangan Kamis (27/2/2020), IHSG juga mengakhiri pergerakannya di level 5.535,69 dengan kemerosotan 2,69 persen atau 153,23 poin, penurunan hari kelima berturut-turut sejak perdagangan 21 Februari.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengatakan, pelemahan IHSG yang terjadi pada pekan ini terbilang cukup dalam bila dibandingkan dengan beberapa tahun sebelumnya.  Kontraksi ini didominasi oleh sentimen negatif wabah virus corona yang kian meluas.

Menurut Nafan, penyebaran wabah yang semakin luas turut meningkatkan ketidakpastian di pasar saham. Para pelaku pasar dan investor telah menganggap virus corona akan memiliki risiko sistemik terhadap pasar modal. 

Nafan menyebut, hal itu juga didukung dengan pernyataan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang belum dapat memberikan perkembangan positif pada masalah ini.

“Ini tidak hanya terjadi di Indonesia saja, pasar saham di belahan dunia lain juga mengalami pelemahan karena aksi ini,” katanya saat dihubungi Bisnis, Jumat (28/2/2020).

Di sisi lain, kondisi pasar saham sepanjang pekan ini juga tidak mendapat angin segar dari sentimen positif yang bisa mengimbangi sentimen negatif. Data makroekonomi global maupun domestik  selama sepekan ke belakang belum ada yang dapat memberikan efek besar ke pasar.

Nafan memperkirakan, aksi obral saham akan tetap dilakukan investor pada pekan depan. Dia beralasan, belum adanya kejelasan terkait penanggulangan wabah virus corona masih menjadi pendorong utama. Meski demikian, ia memperkirakan jumlahnya tidak akan sebesar pada pekan ini.

Selain itu, rilis data indeks manufaktur atau PMI China juga akan berdampak pada performa IHSG minggu depan. Angka indeks yang diprediksi menurun dari 50 menjadi 45 itu akan ikut menekan upaya perbaikan IHSG. Apalagi, penurunan indeks PMI juga diperkirakan akan terjadi pada Indonesia.

Kendati dibayangi aksi jual yang cukup besar, dia mengatakan ada sejumlah katalis positif yang dapat membantu menahan kejatuhan IHSG. Rilis data inflasi Indonesia yang diprediksi stabil akan memberikan sentimen positif.

“Data cadangan devisa (cadev) yang akan dikeluarkan pekan depan juga diharapkan akan mengurangi dampak dari banyaknya pengaruh negatif yang akan terjadi,” tambahnya.

Melihat kondisi pasar yang sedang tidak stabil, Nafan merekomendasikan investor untuk membeli saham dengan fundamental yang baik dan memiliki tata kelola yang optimal. Investor sebaiknya lebih memperhatikan saham-saham yang masuk dalam indeks besar seperti LQ45, IDX30, ataupun IDX High Dividend 20.

Lebih lanjut, saham-saham yang ada pada indeks tersebut saat ini cukup menarik untuk dikoleksi. Pasalnya, akibat pelemahan IHSG, harga saham juga tengah terdiskon yang menjadikannya cukup prospektif bila nantinya keadaan IHSG membaik. 

"Investor yang sudah memiliki saham pada indeks-indeks tersebut dapat mencermati level bottom yang ideal untuk melakukan leveraging down. Yang paling penting bila ingin masuk ke pasar saat ini adalah investasi dalam jangka panjang," jelasnya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG
Editor : Rivki Maulana
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

Foto

BisnisRegional

To top