Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bursa Malaysia Rontok, Kisruh Politik Berlanjut

Saham-saham di KLCI tertekan setelah Negeri Jiran tersebut dilanda kisruh politik akibat perebutan kekuasaan dan kekhawatiran akan penyebaran virus corona.
Bursa Malaysia/malaysia-chronicle.com
Bursa Malaysia/malaysia-chronicle.com

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa Malaysia kembali melanjutkan pelemahan pada hari ini, Selasa (24/2/2020), seiring dengan ketidakpastian politik dan implementasi kebijakan untuk menghadang penyebaran virus corona (Covid-19).

Pelemahan harga saham ini dapat memicu aksi beli dari sejumlah investor. Berdasarkan laporan The Star, Kuala Lumpur Composite Index (KLCI) di buka melemah 5,68 poin atau 0,38 persen menjadi 1.484,38.

Dari saham yang dikalkulasi KLCI, sebanyak 53 saham naik, 396 turun dan 136 tidak berubah.

Chief Market Strategist AxiTrade Stephen Innes mengungkapkan Malaysia tengaha mengalami efek buruk Covid-19 dan runtuhnya koalisi pemerintahan, Pakatan Harapan.

"Ketidakpastian politik akibat pengunduran diri Mahathir Mohamad dan ketika perebutan kekuasaan semakin meningkat telah membuat pemerintah mengalami situasi sulit, terutama ketika masukan kebijakan sangat dibutuhkan untuk menangkal gejolak ekonomi dari perang dagang AS-China yang berlarut-larut dan efek ganda yang kuat dari Covid-19," ungkap Innes, seperti dikutip dari The Star, Selasa (25/2/2020).

Pada perdagangan hari ini, Selasa (25/2/2020), saham produsen minuman beralkohol Carlsberg turun 1,34 ringgit to 33,62 ringgit dan Heineken turun sebanyak 1,24 ringgit menjadi 27,12 ringgit akibat kekhawatiran kenaikan pajak yang akan diterapkan pemerintah baru.

Selain itu, F&N terpangkas 30 sen to 30 ringgit, BAT turun 26 sen menjadi 13,70 ringgit, Allianz turun 30 sen menjadi 15,20 ringgit, Globetronics turun 23 sen menjadi 2,16 ringgit, KESM 22 sen menjadi 9,46 ringgit, QL Resources turun 19 sen menjadi 8,21 ringgit dan Petronas Gas turu 16 sen menjadi 16,34 ringgit.

Kondisi Politik

Hasil dari perebutan kekuasaan dapat menentukan apakah Malaysia ke depannya mampu mendorong kebijakan adil yang memperlakukan semua ras dengan sama, atau kembali ke model lama yang memberi preferensi hanya bagi orang Melayu dan kelompok pribumi yang membentuk hampir 70%
dari populasi negara tersebut.

Kebijakan yang memberikan preferensi kepada pribumi dan etnis Melayu di negara ini telah mendorong banyak orang terdidik - terutama etnis China dan India - untuk mencari pekerjaan di luar negeri. Alhasil, kondisi ini menguras ekonomi terbesar keempat di Asia Tenggara tersebut karena banyak talenta handal yang hilang. 

"Ini belum pernah terjadi sebelumnya di Malaysia," ungkap Analis Politik dari Asia Institute di Universitas Tasmania James Chin, seperti dilansir Bloomberg.

Dia melihat kondisi saat ini merupakan drama politik yang bertujuan untuk membangkitkan pemerintahan etnis Melayu yang lebih kuat. "Sebelumnya pihak oposisi menuduh pemerintah terlalu banyak di bawah kendali China."

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hadijah Alaydrus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper