CATATAN RINGAN: Tantangan Grup Bakrie di Era Revolusi Teknologi

Ketajaman intuisi bisnis Pak Bakrie dibuktikan dengan mengakuisisi NV Kawat dari orang Belanda pada tahun 1957. Dan sejak itu, perusahaan Bakrie mulai bergelut dibidang industri. Sebut saja industi pipa, jembatan, komponen otomotif, gorong-gorong, dan sebagainya.
Lalu Mara Satriawangsa
Lalu Mara Satriawangsa - Bisnis.com 12 Februari 2020  |  20:12 WIB
CATATAN RINGAN: Tantangan Grup Bakrie di Era Revolusi Teknologi
Bus Listrik BYD Bakrie. - BISNIS.COM

PADA 10 Februari 2020, kelompok usaha Bakrie memasuki usia 78 tahun. Bisa dihitung dengan jari institusi bisnis di Indonesia yang usia sama dan atau melebihi kelompok usaha Bakrie. Tentu tak mudah untuk mempertahankan dan membesarkan usaha ditengah iklim dunia usaha yang berubah-ubah.

Apalagi saat ini dunia usaha mengalami perubahan demikian dahsyat akibat revolusi industri di bidang teknologi dan informasi. Lantas apa tantangan Bakrie sebagai institusi bisnis ke depan?

Soal perubahan, kelompok usaha Bakrie sudah membuktikan tidak gagap dengan perubahan. Hal itu tercermin dari bisnis inti yang semula kuat di perdagangan hasil bumi, berubah ke industri. Dan  (alm) Bapak H. Achmad Bakrie, sang pendirilah yang memulai perubahan itu.

Ketajaman intuisi bisnis Pak Bakrie dibuktikan dengan mengakuisisi NV Kawat dari orang Belanda pada tahun 1957. Dan sejak itu, perusahaan Bakrie mulai bergelut dibidang industri. Sebut saja industi pipa, jembatan, komponen otomotif, gorong-gorong, dan sebagainya.

Sepeninggal Pak Bakrie, kelompok usaha Bakrie dilanjutkan generasi kedua di bawah pimpinan Aburizal Bakrie.  Pak Ical, demikian panggilan akrab karyawan kepadanya, bersama dua adiknya; Nirwan D. Bakrie dan Indra U. Bakrie bukan saja mempertahankan bisnis peninggalan orangtuanya. Tapi lebih dari itu, usaha Bakrie dikembangkan lebih luas dan besar. Dan bisnis inti Bakrie pun melebar dari perkebunan, telekomunikasi, dan infrastruktur, serta lembaga keuangan dan perbankan.

Seiring dengan krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada 1997,  kelompok usaha Bakrie terkena imbasnya. Saking beratnya, banyak pihak di kala itu berpandangan kelompok usaha Bakrie, selesai. Tinggal kenangan. Tapi trio Bakrie berhasil menahan 'kapal' untuk untuk tidak tenggelam. Pelan tapi pasti, kelompok usaha Bakrie keluar dari lubang jarum.

Dengan intuisi bisnis yang tajam dalam mensikapi perubahan dunia usaha nasional maupun global, Pak Ical melihat peluang bisnis di pertambangan, migas, makanan dan air. Beliau menyebutnya FEW atau food, energy dan water. Dari ketiga pilihan itu, dipilih bidang energi. Dan kelompok usaha Bakrie bukan saja bangkit, tapi tumbuh semakin besar dibandingkan sebelumnya.

Unit-unit usaha Bakrie di dorong untuk go public. Dan perusahaan-perusahaan Bakrie pernah sangat 'dicintai' oleh pelaku pasar, dan disebut sebagai penggerak pasar (prime mover) dan terbesar kapitalisasi pasarnya. Namanya bisnis pasti ada turun naiknya. Itu biasa. Dan Kelompok Usaha Bakrie membuktikan memiliki daya tahan yang kuat.

Kini, dunia usaha memasuki era revolusi teknologi informasi yang memunculkan disrupsi di seluruh kehidupan. Era di mana yang besar tak lagi mengalahkan yang kecil. Era di mana kompetitor tak lagi nampak. Era di mana kuantitas tak lagi mengalahkan yang sedikit. Era di mana pasar tak lagi jauh dari mata, tapi di tangan (handset) sendiri. Itu semuanya karena revolusi di bidang teknologi dan informasi.

Wajah dunia bisnis berubah total. Kita sudah menyaksikan beberapa bisnis bertumbangan akibat berubahnya mindset (pola pikir) dan budaya masyarakat.

TANTANGAN BAKRIE

Harus diakui usaha Bakrie memiliki daya tahan, dan dibutuhkan oleh masyarakat sampai akhir dunia. Kelapa sawit, karet, batu barat, minyak, gas, pipa, jembatan, komponen otomotif, properti, televisi masih dibutuhkan manusia. Tantangannya muncul dari wajah dunia usaha yang menuntut serba cepat. Selain itu, menuntut kecepatan pasar juga ingin kembali kera 'hijau'. Di sinilah tantangan itu.

Bagaimana Anindya N. Bakrie bersama adik dan saudara sepupunya, Ardiansyah Bakrie, Adhika Nuraga Bakrie, Syailendra Eda Bakrie, Adhika Andrayudha Bakrie, Adhika Aryasthana Bakrie mampu bergerak cepat dan inovatif. Di zaman serba pintar dan dirsrupsi ini hanya yang cepat yang bisa mengalahkan yang lambat. Dan yang inovatif yang mengalahkan yang tidak inovatif.

Inovasi sangat dibutuhkan, misalnya bagaimana mengolah CPO menjadi biodiesel seiring dengan kebijakan pemerintah untuk menerapkan B30 hingga B100. Dan bagaimana mengolah batu bara menjadi metanol, mengolah gas menjadi liquid gas dan bagaimana merealisasikan mimpin Pak Ical dibidang otomotif yang tertunda, yakni Mobil Bakrie.

Secara modal, Anin dan saudaranya lebih dari cukup. Bila dilihat dari pendidikan, kesemuanya tamatan sekolah terbaik di luar negeri. Dilihat dari bisnis perusahaan tak lekang oleh zaman.

Dan seperti penutup sambutannya pada acara tabur bunga di pusara Almarhum Pak Bakrie dan Ibu Roosniah Bakrie, Anindya Bakrie mengutip ayat Al Qur’an surat Al-Insyirah ayat 5, “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”

Anin menyadari tantangan yang dihadapinya bersama saudaranya demikian besar dan berat. Tapi dia optimis bisa melaluinya dengan kerja keras, pintar dan cepat berionovasi.

Selamat ulang tahun Kelompok Usaha Bakrie yang ke-78. Dengan Trimatra Bakrie; Keindonesiaan, Kemanfaatan, dan Kebersamaan membangun Indonesia. Yakinlah tujuan akan sampai.

*Penulis adalah karyawan Bakrie

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Grup Bakrie

Editor : Hendri Tri Widi Asworo
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top