Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jadi Komisaris Garuda (GIAA), Peter Sampaikan Proses Masuknya CT Corp

Sehari setelah ditunjuk menjadi komisaris, Peter F. Gontha menyatakan siap mengemban amanah untuk memperbaiki kinera Garuda. Dia juga menepis anggarapan CT Corp meraup untung besar selama memegang saham Garuda.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 23 Januari 2020  |  12:21 WIB
Pesawat Garuda Indonesia berada di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (26/11/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone
Pesawat Garuda Indonesia berada di terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Senin (26/11/2018). - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA -- Peter F. Gontha baru saja diangkat menjadi komisaris baru PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. dalam rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPLSLB), kemarin. Mantan Duta Besar Indonesia untuk Polandia itu memberikan pandangannya terkait kinerja Garuda Indonesia dan rencana ke depan melalui media sosial Facebook.

Peter menceritakan, dirinya sempat menjadi komisaris Garuda sebelum menjadi Duta Besar Indonesia untuk Polandia pada 2011-2014. Pada 2011, Garuda Indonesia melepas sahamnya ke publik lewat penawaran umum perdana (IPO). Emitern bersandi saham GIAA itu melepas 6,35 miliar lembar saham senilai Rp750 per lembar, harga yang dinilai kelewat mahal.

Harga saham perdana itu sebetulnya berada di ambang bawah dari yang diharapkan Menteri BUMN Mustafa Abubakar, di rentang Rp750 s.d Rp1.100 per lembar saham. Saat itu, menurut Peter, Muhammad Nazaruddin, Bendahara Partai Demokrat menyatakan siap membeli saham Garuda Indonesia dengan harga tersebut.

"Pada saat harus terjadinya pembayaran Nazaruddin tidak muncul dan tidak datang menyelesaikan kewajibannya karena sadar bahwa harga saham tersebut jauh diatas kisaran harga nilai perusahaan," tulis Peter sebagaimana dilansir Bisnis.com dari laman Facebook-nya.

Karena saham Garuda Indonesia kurang laku, pemerintah meminta kelompok usaha pimpinan Chairul Tanjung untuk menyerap sisa saham yang tidak diserap pasar. Peter menyebut, Chairul Tanjung setuju membeli 29 persen saham Garuda dengan nilai US$300 juta atau sekitar Rp3,5 triliun. Nilai tersebut setara dengan harga saham per lembar Rp600 s.d Rp650.

Chairul Tanjung, lanjut Peter disebut oleh "orang tertentu" mengantongi keuntungan ratusan miliar rupiah. Padahal, harga saham Garuda terus lungsur ke kisaran Rp500. Di tahun berjalan (year to date), harga saham Garuda Indonesia tercatat Rp432. Dalam setahun terakhir, harga saham Garuda Indonesia sempat menyentuh level tertinggi Rp630.

Kendati memiliki saham Garuda Indonesia dalam jumla signifikan, Chairul Tanjung melalui entitas usahanya hanya mendapat hak kedudukan dua komisaris, yaitu Chris Kanter dan dirinya. Peter menyebut, seharusnya Chairul Tanjung mendapat hak perwakilan dua komisaris dan dua direksi.

Peter mengaku, dirinya sempat menyampaikan pendapat kepada Chairul Tanjung untuk tidak membeli saham Garuda Indonesia. Namun, Chairul Tanjung, menurut Peter mengatakan, "Biarlah kita bantu perusahaan ini, perusahaan yang membawa bendera Indonesia ke mancanegara".

Di dalam perjalanannya menuju perbaikan, harga saham Garuda Indonesia, menurut Peter hanya bertengger di kisaran Rp450. Dengan kata lain, Chairul Tanjung rugi Rp200 per saham. Sementara di sisi lain, Chairul Tanjung dianggap meraup keuntungan ratusan miliar.

Anggapan tersebut dibantah Peter. Per Kamis (23/1/2020), CT Corp melalui investasi saham, bunga dan perbedaan kurs telah mengeluarkan investasi sekitar Rp7 triliun di Garuda indonesia. Namun, CT Corp mengantongi kerugian sekitar Rp3,5 triliun.

Sebelum RUPSLB kemarin, hak CT Corp di Garuda Indonesia dikurangi lagi yang mana yang diberi kedudukan satu komisaris. Sejak RUPSLB, perwakilan CT Corp kembali bertambah. Selain Peter yang menjabat komisaris, Dony Oskaria juga ditunjuk menjadi Wakil Direktur Utama.

Peter mengimbuhkan, dirinya mencoba memperbaiki kinerja Garuda Indonesia. Peter sebagai perwakilan kelompok usaha CT Corp merasa tidak ada salah dengan melontarkan kritik kepda manajemen Garuda Indonesia atas keputusan-keputusan yang dinilai merugikan perusahaan.

Chairul Tanjung maupun Group CT, lanjut Peter kerap menerima fitnah, dituding memiliki skenario besar untuk mengambil alih Garuda Indonesia. Dia menekankan, pihaknya akan terus mencoba memperbaiki kinerja Garuda Indonesia, perusahaan nasional kebanggaan Indonesia.

Dia juga meminta maaf kepada pembaca halaman Facebooknya karena menyampaikan pandangan terkait Garuda Indonesia melalui media sosial. Tantangan dan pekerjaan di Gauda Indonesia menurut Peter luar biasa sulit. Dia berharpa bisa menunaikan tugas memperbaiki Garuda Indonesia.

"Hanya Tuhan YMK [Yang Maha Kuasa] yang mengetahui akhir cerita Garuda. Apakah saya bisa, sementara umur saya juga tidak muda lagi. Ucapan selamat dan selamat berjuang banyak saya terima, semoga bisa, semoga kita bisa menyelesaikan tugas perbaikan ini, semoga," tutup Peter.

Di laman FB hingga pukul 12:28 WIB, tulisan Peter tersebut telah dibagikan sebanyak 267 kali, dengan 523 komentar, dan mendapatkan lebih dari 1,800 tanda suka.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

garuda indonesia
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top