Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penguatan Harga SUN Berlanjut pada Akhir Pekan, Simak Sentimennya

Sejumlah sentimen eksternal diperkirakan menjadi penyokong penguatan pergerakan harga Surat Utang Negara (SUN) pada perdagangan Jumat (10/1/2020).
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 10 Januari 2020  |  09:32 WIB
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — BNI Sekuritas memproyeksi harga Surat Utang Negara (SUN) berpeluang melanjutkan penguatan sebelumnya pada perdagangan Jumat (10/1/2020). 
 
Kepala Riset Pendapatan Tetap BNI Sekuritas Ariawan mengatakan peluang penguatan cukup terbuka, didukung oleh sejumlah sentimen. Pertama, tekanan eksternal yang mereda karena AS dan Iran menghindari konflik. 
 
Kedua, optimisme pelaku pasar global terhadap kelanjutan perang dagang China-AS meningkat sejalan dengan rencana Wakil Perdana Menteri (PM) China Liu He yang bakal tiba di Washington guna meneken kesepakatan dagang jilid I pada 15 Januari 2020. 
 
Ketiga, data ekonomi AS seperti rilis data pembayaran gaji kelompok pekerjaan non pertanian diproyeksi positif sebagai imbas dari data klaim pengangguran yang turun dari 223.000 menjadi 214.000. Optimisme tersebut akhirnya mendorong minat investor terhadap aset yang lebih berisiko sehingga pasar saham AS dan Eropa mengalami penguatan. 
 
“Meredanya tekanan eksternal ini juga akan menjadi katalis positif yang akan membuka ruang penguatan harga lanjutan di pasar surat utang Indonesia akhir pekan ini,” paparnya seperti dikutip dari risetnya, Jumat (10/1).
 
Menurut Ariawan, penurunan lanjutan imbal hasil di pasar surat utang Indonesia akan didukung likuiditas yang tinggi.

Pada awal tahun, likuiditas terlihat cukup tinggi seperti diindikasikan pada peningkatan volume transaksi Surat Berharaga Negara (SBN). Tercatat, volume transaksi SBN secara outright mencapai Rp22,1 triliun pada perdagangan Kamis (9/1). Angka ini lebih tinggi dibandingkan dengan volume transaksi yang terealisasi pada Rabu (8/1), yang sebesar Rp20,9 triliun.
 
Sementara itu, rata-rata volume transaksi SBN secara bulan berjalan telah mencapai Rp17,4 triliun atau lebih tinggi daripada Desember 2019, sebesar Rp11,3 triliun.

Adapun seri FR0082 dan FR0078 menjadi dua seri teraktif di pasar sekunder Kamis (9/1), dengan volume transaksi masing – masing sebesar Rp3 triliun dan Rp2,1 triliun. Lalu, volume transaksi obligasi korporasi secara outright tercatat sebesar Rp777 miliar.
 
Selain itu, penguatan rupiah menjadi pemulas daya tarik pasar surat utang RI pada pekan ini. Sebelumnya, rupiah ditutup menguat ke level Rp13.854 atau lebih rendah dibandingkan dengan posisi penutupan hari sebelumnya, yakni Rp13.900.
 
Atas proyeksi tersebut, BNI Sekuritas merekomendasikan agar investor memilih seri-seri acuan untuk memanfaatkan potensi penguatan. Beberapa seri SUN yang bisa dicermati yaitu FR0081, FR0082, FR0080, dan FR0083.
 
"Di tengah potensi penguatan harga yang masih cukup terbuka di pasar surat utang Indonesia dalam waktu dekat, maka SUN bertenor menengah dan panjang seperti seri FR0081, FR0082, FR0080, dan FR0083 akan menjadi pilihan yang menarik bagi investor, " sambung Ariawan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surat utang negara
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top