Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Goldman Sachs: Lonjakan Harga Minyak Diperkirakan Berumur Pendek

Goldman Sachs Inc. dalam risetnya yang dirilis Senin (6/1/2020) dikutip dari Bloomberg, memperkirakan, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kemungkinan menjaga harga minyak tetap memanas. Namun, sentimen itu saja belum cukup, perlu ada gangguan aktual terhadap suplai global minyak mentah agar level harga saat ini terjaga.
Dika Irawan
Dika Irawan - Bisnis.com 06 Januari 2020  |  18:04 WIB
Goldman Sachs: Lonjakan Harga Minyak Diperkirakan Berumur Pendek
Para pelayat menghadiri prosesi pemakaman komandan militer Iran Qassem Soleimani, yang juga kepala divisi elit Quds Force of the Revolutionary Guards, serta pemimpin kelompok militan Irak Abu Mahdi al-Muhandis yang tewas dalam serangan udara oleh AS di bandara Baghdad, di Kerbala, Irak, Sabtu (4/1/2020). - Reuters/Abdullah Dhiaa al/Deen
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak global tersulut ke level di atas US$70 per barel dipicu oleh perseteruan terbaru antara Iran dan Amerika Serikat setelah serangan untuk membunuh Jenderal Qassem Soleimani pada 3 Januari.

Akan tetapi umur harga minyak di level tersebut diperkirakan berlangsung singkat, seandainya minim sentimen pengait.

Goldman Sachs Inc. dalam risetnya yang dirilis Senin (6/1/2020) dikutip dari Bloomberg, memperkirakan, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kemungkinan menjaga harga minyak tetap memanas. Namun, sentimen itu saja belum cukup, perlu ada gangguan aktual terhadap suplai global minyak mentah agar level harga saat ini terjaga.

Bank tersebut memproyeksikan, harga minyak Brent yang telah melonjak 6% sejak serangan AS terhadap tokoh militer berpengaruh itu berisiko condong ke situasi negatif dalam beberapa pekan mendatang, bila tak ada gangguan besar terhadap pasokan minyak global.

Minyak telah diperdagangkan di atas nilai wajar fundamental bank tersebut sebesar US$63 per barel sebelum serangan, ditopang oleh reli terhadap aset risiko pada Desember yang terlalu antusias, kendati ada bukti terbatas terhadap percepatan pertumbuhan global.

“Setiap pembalasan oleh Iran [kepada AS] akan menargetkan aset-aset terkait produksi minyak,” kata analis Goldman Jeff Currie.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Menurut Goldman, serangan September tahun lalu pada fasilitas produksi minyak utama di Arab Saudi telah menunjukkan bahwa pasar memiliki fleksibilitas pasokan yang signifikan. “Hanya ada kenaikan moderat dari level saat ini, bahkan jika serangan terhadap aset minyak benar-benar terjadi,” kata bank tersebut.

Sebagai informasi, selepas serangan pada 14 September 2019 itu, harga minyak mencatatkan kenaikan harian hampir 20%. Namun setelah itu harga berangsur-angsur mereda, karena Saudi dengan cepat memulihkan produksinya.

Sementara itu, hingga pukul 15:08 WIB, Senin (6/1/2020), harga minyak mentah WTI menguat 1,60% atau 1,01 poin ke level US$64,06 per barel, sedangkan harga minyak Brent menguat 1,94% atau 1,33 poin ke level US$69,93 per barel. Pada sesi sebelumnya, harga WTI mendekati US$65 per barel, sementara Brent mencapai US$70 per barel.

Sebagaimana diketahui, retorika berubah menjadi lebih bermusuhan setelah Presiden Trump memperingatkan Iran tentang pembalasan besar AS. Trump juga mengancam sanksi berat pada sekutunya Irak setelah parlemen mereka memilih untuk mengusir pasukan Amerika dari negara itu dalam menanggapi serangan Baghdad.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : M. Taufikul Basari
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top