Yen Alami Penurunan Mingguan Terbesar Sejak Mei

Manajer Portfolio Rivkin Securities Sydney William O’Loughlin mengatakan bahwa kekuatan dolar AS pada awal pekan lalu sulit dibendung. Sepanjang pekan lalu, yen telah melemah 0,79 persen terhadap greenback dan menjadi penurunan mingguan terbesar sejak 31 Mei 2019.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 02 Desember 2019  |  05:29 WIB
Yen Alami Penurunan Mingguan Terbesar Sejak Mei
Euro, dolar Hong Kong, dolar AS, yen Jepang, Pound sterling, dan yuan China. - Reuters/Jason Lee

Bisnis.com, JAKARTA - Yen mengalami pelemahan mingguan terbesarnya melawan dolar AS sejak Mei lalu seiring dengan kemajuan negosiasi dagang pada awal pekan dan data ekonomi AS yang menekan harapan adanya pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed.

Manajer Portfolio Rivkin Securities Sydney William O’Loughlin mengatakan bahwa kekuatan dolar AS pada awal pekan lalu sulit dibendung. Sepanjang pekan lalu, yen telah melemah 0,79 persen terhadap greenback dan menjadi penurunan mingguan terbesar sejak 31 Mei 2019.

Penguatan tersebut didorong oleh harapan AS dan China membuat kemajuan dalam menegosiasikan sengketa perdagangan yang telah merusak pertumbuhan ekonomi kedua negara selama 16 bulan terakhir.

“Ada optimisme yang cukup baik di sekitar pembicaraan perdagangan yang terjadi antara AS dan China pada awal pekan lalu, sehingga menjauhkan investor terhadap yen yang dinilai sebagai aset investasi aman saat gejolak geopolitik,” ujar William seperti dikutip dari Reuters, Minggu  (1/12/2019).

Selain itu, pertumbuhan ekonomi AS naik sedikit pada kuartal ketiga, berbeda dengan indikator lain yang menunjukkan perlambatan dalam aktivitas global. Federal Reserve juga menunjukkan optimismenya terhadap pertumbuhan ekonomi AS di tengah tanda-tanda menguat pasar tenaga kerja dan kemungkinan perubahan dalam investasi bisnis.

Hal tersebut mendorong mundur harapan pemangkasan suku bunga acuan AS pada tahun ini. Pasar saat ini menilai adanya peluang sebesar 5 persen bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga bulan depan dan sebagian besar mengharapkannya untuk tetap stabil.

Kendati demikian, Yen berhasil berbalik menguat pada akhir pekan seiring dengan China yang akan melakukan tindakan tegas setelah Presiden AS Donald Trump menyetujui sebuah RUU yang mendukung demonstran Hong Kong.

Sentimen tersebut kembali menggairahkan aset investasi aman seperti yen, dan menjauhkan investor terhadap aset-aset berisiko seiring dengan potensi gagalnya realisasi kesepakatan dagang parsial AS dan China yang memperburuk proyeksi pertumbuhan ekonomi global.

Berdasarkan  data Bloomberg, pada perdagangan Jumat (29/11/2019) yen ditutup menguat tipis 0,02 persen menjadi 109,49 yen per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah 0,01 persen di level 98,023.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
yen

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top