Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kendaraan Listirk Diproyeksi Dorong Permintaan Timah

Permintaan kendaraan listrik yang diproyeksi meningkat pada tahun depan dinilai akan ikut membantu memperbaiki permintaan timah yang telah terkontraksi akibat perang dagang AS dan China.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 23 November 2019  |  23:10 WIB
Mobil listrik Nissan Leaf dipamerkan dalam ajang Tokyo Motor Show - REUTERS/Edgar Su
Mobil listrik Nissan Leaf dipamerkan dalam ajang Tokyo Motor Show - REUTERS/Edgar Su

Bisnis.com, JAKARTA - Permintaan kendaraan listrik yang diproyeksi meningkat pada tahun depan dinilai akan ikut membantu memperbaiki permintaan timah yang telah terkontraksi akibat perang dagang AS dan China.

Direktur PT Refined Bangka Tin Reza Andriansyah mengatakan bahwa pihaknya yakin permintaan timah akan terkena imbasnya dari kenaikan permintaan kendaraan listrik, terutama di kasawan Eropa.

Hal tersebut seiring dengan sebuah riset yang mengungkapkan penggunaan timah dalam kendaraan listrik akan membuat daya tahan baterai lebih lama dibandingkan dengan bahan lain.

“Walaupun itu baru research stated, saya tetap yakin kendaraan listrik yang akan mendorong permintaan timah ke depannya sehingga dapat mendorong konsumsi jadi dorong harganya untuk bergerak lebih tinggi lagi,” ujar Reza kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Adapun, Asosiasi Eksportir Timah Indonesia atau AETI memprediksi permintaan timah global turun sebesar 7% hingga 12% sampai akhir tahun ini, terkecuali ada perkembangan positif dari sengketa perdagangan AS dan China.

Sepanjang tahun berjalan 2019, harga timah telah bergerak terdepresiasi hingga 15,81% akibat tekanan permintaan karena melemahnya pertumbuhan ekonomi global. 

Berdasarkan data Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (22/11/2019), harga timah di bursa London melemah 0,3% menjadi US$16.350 per ton.

Untuk membantu mendorong harga, PT Refined Bangka Tin melakukan pemangkasan produksi sekitar 100 ton per bulan mulai Juli bersamaan dengan keputusan produsen timah terbesar dunia, Yunnan Tin untuk memangkas produksi. Pemangkasan tersebut pun juga dilakukan oleh PT Timah Tbk.

Reza mengatakan bahwa pemangkasan produksi tersebut diestimasikan dilakukan hingga akhir tahun untuk mendorong harga dapat naik maksimal.

“Sebelumnya kan produksi kami juga sudah melambat seiring dengan sertifikasi CPI [competent person Indonesia], jadi mungkin tahun ini total pasokan lebih lemah, semoga harga bisa kembali pulih,” papar Reza.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

timah
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top