Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Suku Bunga Jadi Pertimbangan Frekuensi Emisi SBN Ritel pada 2020

Tahun ini, Bank Indonesia (BI) telah memangkas suku bunga acuan hingga 100 basis poin (bps) ke level 5 persen.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 16 November 2019  |  17:53 WIB
Karyawan memesan surat berharga negara Saving Bond Retail (SBR) seri SBR007 secara online, di Jakarta, Senin (15/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan memesan surat berharga negara Saving Bond Retail (SBR) seri SBR007 secara online, di Jakarta, Senin (15/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Tren penurunan suku bunga acuan tahun ini dan peluang pemangkasan lanjutan pada tahun depan menjadi pertimbangan frekuensi penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel pada 2020.
 
Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Luky Alfirman mengatakan saat ini, pihaknya masih melakukan evaluasi terhadap penerbitan SBN ritel sepanjang 2019. Seperti diketahui, tahun ini, pemerintah menerbitkan SBN ritel 10 kali atau hampir setiap bulan kecuali Juni dan Desember. 
 
Adapun langkah Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga acuan sebanyak 4 kali sehingga besarannya menyentuh level 5 persen dari semula 6 persen menjadi pertimbangan sebelum menetapkan frekuensi penerbitan SBN ritel. Alasannya, kupon yang diberikan  menjadi sensitif karena merefleksikan perubahan suku bunga. 
 
“Dengan suku bunga menurun, frekuensi penerbitan juga dipertimbangkan,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (16/11/2019).
 
Luky mengakui investor ritel di Indonesia masih sensitif terhadap imbal hasil yang diperoleh. Padahal, apabila mengacu pada tren kebijakan moneter secara global, suku bunga acuan terus turun.

Oleh karena itu, dengan ekspektasi investor ritel dan tren penurunan suku bunga, Kemenkeu masih melakukan evaluasi apakah frekuensi 10 kali penerbitan SBN ritel akan terulang pada 2020.
 
Minat investor yang kurang menggembirakan pun tercermin pada instrumen obligasi negara Indonesia (ORI) seri ORI016 yang menjadi instrumen ORI dengan pemesanan terendah. ORI016 mendapatkan pemesanan sebesar Rp8,2 triliun, di bawah seri ORI014 yang sebelumnya dianggap gagal meraih dana publik dengan pemesanan Rp8,9 triliun. 
 
ORI016 ditawarkan setelah BI memangkas suku bunga acuan ketiga kalinya sekaligus di tengah sentimen pemangkasan suku bunga yang keempat kalinya. Tak heran bila kupon yang ditawarkan di bawah ekspektasi pasar yakni sebesar 6,8 persen.

Di sisi lain, investor mendapatkan kupon cukup tinggi yakni 8,15 persenmelalui instrumen Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005 pada Januari 2019. 
 
“Kami sedang mengevaluasi yang kami jalankan tahun ini. Apakah akan kami kurangi atau tetap 10,” ucap Luky. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sbn Suku Bunga
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top