Investor Ritel Silau Return Tapi Tak Jeli Pilih Underlying Asset 

Underlying asset menjadi tolok ukur risiko suatu instrumen investasi, sehingga return tak bisa menjadi pertimbangan tunggal dalam memilih investasi.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 16 November 2019  |  17:38 WIB
Investor Ritel Silau Return Tapi Tak Jeli Pilih Underlying Asset 
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Investor ritel Indonesia disebut lebih cenderung mempertimbangkan imbal hasil yang bakal didapat ketimbang underlying asset yang digunakan dalam instrumen investasi terkait.

CEO dan Founder Jouska Indonesia Aakar Abyasa Fidzuno menuturkan underlying asset akan menjadi tolok ukur risiko. Dengan demikian, besarnya return tak bisa menjadi pertimbangan tunggal dalam memilih instrumen investasi.

Hal itu tercermin pada peristiwa investasi syariah yang menggunakan kebun kurma sebagai underlying asset yang berujung pada kerugian. 
 
“Boleh sih pakai klausul syariah, tetapi harus dilihat underlying asset-nya. Enggak cuma return, tetapi risiko harus ditimbang,” ujarnya saat menghadiri acara Green Sukuk Investor Day di Jakarta, Sabtu (16/11/2019).

Aakar mengungkapkan pertanyaan tentang return turut mengemuka di tengah maraknya instrumen Surat Berharga Negara (SBN) ritel yang dirilis pemerintah. Pasalnya, investor belum memahami bahwa kupon yang diberikan pada setiap instrumen SBN ritel terhubung dengan perubahan suku bunga acuan. 
 
Selain itu, investor menanyakan skema syariah yang diterapkan dalam instrumen Sukuk Tabungan (ST) seri ST006. Dia menyebut kupon yang didapat dari kepemilikan ST006 merupakan imbal hasil yang diperoleh karena investor memindahkan kuasa atau wakalah

Investor mendapatkan imbal hasil yang muncul dari manfaat penggunaan dana yang diberikan melalui sukuk wakalah tersebut.

“Sukuk wakalah itu investor menitip ke semacam MI [manajer investasi], dari situ underlying asset-nya 50 persen tangible asset negara dan existing project,” terang Aakar.

ST006 memiliki kupon 6,75 persen dan ditawarkan dalam periode 1-21 November 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
investasi, sbn

Editor : Annisa Margrit
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top