Stimulus ECB & Penurunan Ketegangan AS-China Dorong Bursa Asia Menguat

Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (13/9/2019) menyusul tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan perdagangan AS-China dan stimulus agresif dari Bank Sentral Eropa membantu meredakan kekhawatiran perlambatan ekonomi global.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 13 September 2019  |  15:45 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada perdagangan Jumat (13/9/2019) menyusul tanda-tanda kemajuan dalam pembicaraan perdagangan AS-China dan stimulus agresif dari Bank Sentral Eropa membantu meredakan kekhawatiran perlambatan ekonomi global.

Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang terpantau menguat 0,5 persen ke level tertinggi sejak 1 Agustus, sementara indeks Topix dan Nikkei 225 ditutup menguat masing-masing 0,93 persen dan 1,05 persen.

Volume perdagangan di Asia cenderung tipis karena pasar saham Korea Selatan dan China ditutup menyusul libur nasional. Indeks Hang Seng menguat 0,84 persen.

"Aset berisiko akan mendapatkan dukungan lebih lanjut dari kebijakan akomodatif, yang ditetapkan untuk tetap menjadi tren dalam beberapa waktu, dan tidak hanya di Eropa seperti yang terlihat dalam tren pelonggaran global," kata Esty Dwek, kepala analis pasar global di Natixis, seperti dikutip Reuters.

Amerika Serikat pada hari Kamis menyambut pembelian baru barang-barang pertanian AS ole China sambil mempertahankan ancaman kenaikan tarif AS ketika dua negara ekonomi terbesar di dunia bersiap untuk melakukan pembicaraan perdagangan lanjutan.

Trump mengatakan dia lebih suka kesepakatan perdagangan komprehensif dengan China tetapi tidak mengesampingkan kemungkinan pakta sementara.

Investor berspekulasi optimisme akan menang dalam waktu dekat meskipun sebagian besar ekonom dalam jajak pendapat Reuters percaya perselisihan perdagangan akan memburuk atau paling tidak tetap sama di tahun mendatang.

Sementara itu, Bank Sentral Eropa memberikan stimulus yang lebih besar dari perkiraan, memangkas suku bunga sebesar 0,10 poin persentase menjadi minus 0,50 persen dan berjanji bahwa suku bunga akan tetap rendah lebih lama dan memulai kembali program pembelian obligasi sebesar 20 miliar euro per bulan mulai November.

Dimulainya pelonggaran kuantitatif telah dilihat sebagai faktor pendorong terhadap aset risiko. Tetapi euro dengan cepat kehilangan tenaga dan imbal hasil obligasi Eropa juga naik karena aksi ambil untung.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top