Kinerja Emiten Ritel Masih Lunak

Kinerja emiten ritel, khususnya yang bergerak pada bisnis ritel modern diproyeksikan masih melunak hingga beberapa tahun ke depan. Hal itu disebabkan oleh masih lemahnya daya beli masyarakat.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 05 September 2019  |  06:43 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Kinerja emiten ritel, khususnya yang bergerak pada bisnis ritel modern diproyeksikan masih melunak hingga beberapa tahun ke depan. Hal itu disebabkan oleh masih lemahnya daya beli masyarakat.

Dalam proyeksi yang dikemukakan oleh berbagai pihak, pertumbuhan industri ritel modern di Indonesia diproyeksi tidak akan mencapai dua digit sampai dengan 2 tahun kedepan lantaran capaian pertumbuhan ekonomi nasional masih belum memuaskan.

Pertumbuhan ekonomi nasional pada 2019 diprediksi hanya mampu mencapai level 5,08% Angka tersebut berada di bawah target awal yang ditetapkan pemerintah sebesar 5,30%. Kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian dan konsumsi masyarakat yang hanya bergerak tipis masih membayangi pertumbuhan ekonomi nasional.

Sebagai catatan, konsumsi fast moving consumer goods (FCMG)secara keseluruhan di Indonesia tumbuh sebesar 1,8% pada periode April 2018—April 2019. Walaupun masih jauh dibandingkan angka inflasi, capaian tersebut jauh lebih baik dibandingkan dengan periode sebelumnya, April 2017—April 2018 yang hanya tumbuh sebesar 1%.

Senior Vice President Royal Investium Sekuritas Janson Nasrial menilai daya beli masyarakat sangat berpengaruh terhadap kinerja keuangan emiten ritel moder.

Menurutnya, hal itu tercermin pada rilis laporan keuangan emiten ritel modern pada periode semester I/2019. Dia mengatakan bahwa hampir semua kinerja emiten ritel modern terpukul pada periode tersebut.

“Memang driver-nya adalah penurunan daya beli yang signifikan khususnya di segmen ke bawah,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (4/9/2019).

Di samping itu, persaingan di industri bisnis ritel modern semakin hari menjadi semakin ketat, terlebih persaingan antara ritel modern berjenis supermarket dengan minimarket.

Dengan demikian, ditengah daya beli yang lemah, kinerja emiten ritel modern semakin tertekan dengan adanya persaingan tersebut. Tak sedikit pemain ritel modern memangkas jumlah tokonya akibat kalah bersaing.

“Kalau kompetisi ritel modern selalu bakalan ketat,” ungkapnya.

Untuk itu, emiten ritel modern perlu menyiasati segmen pasar sehingga dapat lebih membuka peluang dibandingkan dengan kondisi persaingan yang ada saat ini.

Menurutnya, perlu adanya segmentasi khusus untuk yang harus dituju oleh emiten ritel modern.

“Karena lemahnya daya beli itu maka pintar-pintarnya ritel modern itu bisa menyasar ke spesifik target konsumen,” ungkapnya.

Namun, Janson berpendapat prospek kinerja emiten ritel masih akan relatif flat hingga 2020 mendatang. Pasalnya, kondisi pelemahan daya beli masyarakat diproyeksikan masih berlanjut.

Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), kenaikan biaya listrik, serta stimulus positif yang diproyeksikan baru akan muncul pada 2021 seperti kebijakan fiskal dan moneter yang sedang dirancang pemerintah. Dia pun memberikan rekomendasi netral untuk sektor ini.

“Jadi yang kejepit itu adalah daya beli menengah ke bawah, jadi makanya saya bilang prospek modern ritel itu akan flat sampai tahun depan,” ungkapnya.

Senada, Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya menilai pelemahan daya beli masyarakat memberikan dampak terhadap kinerja emiten ritel modern.

Namun, hal itu sedikit dapat disiasti oleh emiten ritel modern yang berbentuk minimarket. Pasalnya, segmen tersebut dapat menyasar konsumen lebih dalam dengan penempatan lokasi gerai yang dekat dengan masyarakat.

Di sisi lain, hal itu menggerus penjualan emiten ritel modern berjenis supermarket. Hal itu menimbulkan tantangan baru pada industri tersebut.

Christine mengatakan bahwa dengan adanya persaingan yang ketat itu menimbulkan persaingan harga yang bisa mengurangi keuntungan dari emiten ritel modern.

“Kondisi yang sekarang kelihatan sekali perang harga,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (4/9/2019).

Adapun, Christine memproyeksikan kinerja emiten ritel modern ini masih dalam keadaan flat hingga tahun depan.

Menurutnya, kinerja emiten ritel modern akan tertekan oleh sentiment kenaikan harga BBM, kenaikan listrik, serta potensi kenaikan biaya iuran BPJS yang membuat daya beli masyarakat melanjutkan pelemahan.

“RANC masih karena segmennya middle to up, dan number of stores-nya belum banyak sehingga banyak peluang untuk tumbuh. Target harga Rp500 per sahamtrading buy,” pungkasnya.

Di lain pihak, Hans Kwee, Direktur PT Anugerah Mega Investama mengatakan bahwa untuk ritel modern berjenis minimarket pelemahan daya beli masyarakat tidak berdampak signifikan terhadap kinerjanya.

Menurutnya, emiten ritel modern minimarket lebih banyak menjual kebutuhan masyarakat sehari-hari, sehingga permintaan akan produk tersebut akan selalu ada meski kondisi ekonomi sedang melamah.

“Perusahaan ritel berjualan kebutuhan pokok jadi lebih elastis, ada pengaruh penjualan tapi tidak besar sekali,” ungkapnya.

Hans memproyeksikan prospek kinerja emiten ritel modern akan relatif mendatar pada beberapa tahun ke depan seiring dengan bergejolaknya perang dagang antara China dan Amerika Serikat yang mempengaruhi kondisi ekonomi global.

“Masih menarik tetapi memang tentu pertumbuhan agak relative terbatas,” ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ritel

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top