Rupiah Masih Ditopang Katalis Positif

Mata uang Garuda pada awal pekan depan diprediksi berada dalam tekanan seiring dengan eskalasi perang dagang antara AS dan China. Kendati demikian, rupiah masih memiliki sentimen positif yang dapat menahan untuk tidak terdepresiasi cukup dalam.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 25 Agustus 2019  |  17:25 WIB
Rupiah Masih Ditopang Katalis Positif
Karyawan menata uang rupiah di Cash Center Bank BNI di Jakarta, Rabu (10/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Mata uang Garuda pada awal pekan depan diprediksi berada dalam tekanan seiring dengan eskalasi perang dagang antara AS dan China. Kendati demikian, rupiah masih memiliki sentimen positif yang dapat menahan untuk tidak terdepresiasi cukup dalam.

Ekonom Pefindo Fikri C Permana mengatakan bahwa jika melihat sentimen yang tengah bergulir kemungkinan besar rupiah akan bergerak terdepresiasi seiring dengan pergerakan aset investasi berisiko lainnya.

“Namun, indikasi penurunan suku bunga acuan AS oleh Jerome Powell dapat menahan penekanan rupiah lebih lanjut. Jadi walau akan berat dengan sentimen negatif yang bergulir, rupiah masih memiliki sentimen positifnya,” ujar Fikri kepada Bisnis, Minggu (25/8/2019).

Sebagai informasi, perang dagang AS dan China kembali memanas setelah 2 negara saling menjatuhkan tarif impor baru. China akan memberlakukan tarif impor baru untuk barang AS senilai US$75 miliar yang kemudian dibalas AS dengan ancaman tarif tambahan 5% untuk produk China senilai US$550 miliar.

Pemerintahan Presiden Donald Trump juga akan menaikkan tarif untuk produk China senilai US$250 miliar yang sebelumnya 25% menjadi 30% dan akan dimulai pada 1 Oktober 2019, saat peringatan berdirinya Republik Rakyat China.

Tidak hanya itu, Trump juga akan menaikkan tarif impor untuk produk China senilai US$300 miliar dari sebelumnya sebesar 10% menjadi 15% yang akan berlaku pada 1 September hingga 15 September 2019.

Belum puas, Trump juga memerintahkan perusahaan asal AS untuk segera hengkang dari China dan menyarankan untuk segera mencari alternatif perdagangan selain dengan China.

Sementara itu, Ketua The Fed Jerome Powell yang mengatakan bahwa pihaknya akan melakukan berbagai langkah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS telah mendorong harapan pasar bahwa Bank Sentral AS tersebut akan kembali memangkas suku bunga acuannya.

Hal tersebut membantu untuk melemahkan dolar AS sehingga menjadi katalis positif bagi nilai tukar rupiah.

Selain itu, Fikri mengatakan bahwa pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) pada pekan lalu juga akan membantu pergerakan nilai tukar rupiah.

Adapun, BI telah memangkas suku bunga sebanyak dua kali pada tahun ini dan kedua pemangkasan tersebut dilakukan mendahulukan keputusan kebijakan The Fed.

“Artinya saya melihat ada kepercayaan diri dari bank sentral kita untuk menghadapi terpaan sentimen global, dan harusnya pasar juga bisa melihat ada rasa percaya diri dari BI kalau ekonomi Indonesia sebenarnya baik.” ujar Fikri.

Dia memprediksi sepanjang pekan depan rupiah bergerak dikisaran Rp14.230 per dolar AS hingga Rp14.330 per dolar AS, dengan kurs tengah pada perdagangan Senin (26/8/2019) berada di level Rp14.255 per dolar AS.

Di sisi lain, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa meski mata uang Garuda berada dalam tekanan, tetapi berhasil menunjukkan keperkasaannya dengan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di antara mata uang Asia lainnya secara year to date.

Sepanjang tahun berjalan 2019, rupiah masih bergerak positif 2,39% di bawah kinerja baht yang menguat 5,96% dan yen yang menguat 4,42%, di saat mata uang lainnya terdepresiasi.

“Ini jadi bukti bahwa rupiah menjadi salah satu nilai tukar dengan penguatan paling tinggi meskipun banyak sentimen global yang masih bergejolak,” ujar Josua kepada Bisnis.

Dia juga mengatakan bahwa imbal hasil obligasi Indonesia masih menarik untuk para investor bermain di pasar keuangan Indonesia.

Oleh karena itu, dengan fundamental yang masih cukup kokoh dan inisiatif pelonggaran dari Bank Indonesia untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dalam negeri akan menjadi katalis positif bagi rupiah sehingga volatilitas tidak besar, bahkan cenderung stabil.

Dia memprediksi rupiah masih memilik potensi untuk menguat dengan bergerak di kisaran Rp14.180 per dolar AS hingga Rp14.300 per dolar AS sepanjang pekan depan.

Adapun, pada penutupan perdagangan pekan lalu, Jumat (23/8/2019), rupiah berada di posisi Rp14.215 per dolar AS, menguat 0,17%.

Direktur Utama PT Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan, efek penurunan suku bunga acuan oleh BI sudah terlihat, walaupun tidak terlalu signifikan penguatannya.

Ibrahim melanjutkan, BI menegaskan bahwa penurunan suku bunga acuan tidak mengurangi keseksian pasar keuangan Indonesia. Pasalnya, selisih imbalan dengan negara-negara tetangga masih lumayan tinggi.  Akan tetapi, menurutnya, tidak bisa dipungkiri bahwa penurunan suku bunga acuan bakal menurunkan yield sehingga mempengaruhi minat investor.

“Apalagi dengan situasi yang penuh ketidakpastian, bahkan ada ancaman resesi, pelaku pasar lebih memilih selamatkan diri masing-masing,” katanya.

Dia memperkirakan rupiah masih ada harapan untuk menguat pada pekan depan. Namun, dia melihat penguatan tersebut terbatas di kisaran Rp14.200 per dolar AS hingga  Rp14.265 per dolar AS. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top