Bursa Hong Kong dan China Menguat di Tengah Bayang-Bayang Resesi Global

Bursa saham Hong Kong dan China ditutup menguat pada perdagangan Kamis (15/8/2019), melawan pelemahan di bursa saham lainnya di Asia.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 15 Agustus 2019  |  15:52 WIB
Bursa Hong Kong dan China Menguat di Tengah Bayang-Bayang Resesi Global
Bursa Hong Kong - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Hong Kong dan China ditutup menguat pada perdagangan Kamis (15/8/2019), melawan pelemahan di bursa saham lainnya di Asia.

Indeks Hang Seng ditutup menguat 0,76 persen setelah jatuh hingga 1,6 persen. Sementara itu, indeks Shanghai Composite ditutup menguat 0,25 persen. Keduanya merosot sekitar 16 persen dari level tertinggi yang dicapai pada April, terbebani oleh sengketa perdagangan AS dan aksi protes di Hong Kong.

"Pasar sangat tertekan setelah aksi jual sebelumnya, jadi kami melihat adanya rebound sementara saat ini bersama dengan beberapa kemungkinan short-covering," kata Alex Wong, Direktur Manajemen Aset di Ample Capital Ltd, seperti dikutip Bloomberg.

Indeks Hang Seng Properties naik 2,5 persen, sejalan dengan peningkatan terbesar sejak April, setelah protes anti pemerintah di Hong Kong selama beberapa pekan terakhir menyeret indeks ke level terendah tahun ini.

Penguatan bursa di China dan Hong Kong ini berbanding terbalik dengan pergerakan bursa saham lain di Asia yang melemah setelah imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun berada di bawah imbal hasil tenor dua tahun.

Inversi kurva imbal hasil ini terjadi untuk pertama kalinya sejak 2007, dan dianggap sebagai sinyal resesi ekonomi AS yang dimulai dalam 18 bulan ke depan. Proyeksi tersebut telah didukung oleh tanda-tanda bahwa pertumbuhan global sedang melambat, sehingga mendorong investor untuk melepas aset berisiko.

"Pasar sudah cukup lemah dan risiko tambahan dari inversi kurva ini akan memberikan tekanan lebih besar," kata Daniel So, analis CMB International Securities Ltd.

Tencent Holdings Ltd. Menjadi penekan terbesar saham Hong Kong setelah merosot sebanyak 4,2 persen karena pendapatan kuartalan perusahaan meleset dari ekspektasi. Kinerja perusahaan ini memicu beberapa pemotongan proyeksi oleh analis, yang mengharapkan bisnis periklanan online raksasa media sosial itu tetap lamban karena persaingan yang semakin ketat.

"Ketakutan akan resesi AS menambah kekhawatiran pasar karena data ekonomi kuartal kedua yang buruk di Asia sudah mengkhawatirkan investor," kata Banny Lam, kepala penelitian di CEB International Investment Corp. "Kinerja Tencent juga mempengaruhi pasar."

Investor di China daratan terus mengoleksi saham di Hong Kong melalui hubungan pertukaran dengan Shanghai dan Shenzhen karena beberapa investor melihat peluang pembelian menurun. Mereka telah memompa modal melintasi perbatasan untuk hari ke-20 pada hari Kamis, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg, memperpanjang aliran masuk modal terpanjang sejak Februari tahun lalu.

Di antara saham penggerak indeks, emiten pengembang New World Development Co dan Wharf Real Estate Investment Co naik setidaknya 3 persen. MTR Corp, yang mengembangkan real estat di Hong Kong dan mengoperasikan jaringan kereta api kota, juga naik hingga 4,1 persen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, bursa china, bursa hong kong

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top