Wall Street Ditutup Melemah Tajam, Ini Sentimen Penekannya

Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Senin (12/8/2019) karena memanasnya ketegangan geopolitik, sementara perang perdagangan AS dengan China yang berlarut-larut memicu kekhawatiran akan terjadinya resesi.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 13 Agustus 2019  |  06:51 WIB
Wall Street Ditutup Melemah Tajam, Ini Sentimen Penekannya
Bursa Wallstreet - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Senin (12/8/2019) karena memanasnya ketegangan geopolitik, sementara perang perdagangan AS dengan China yang berlarut-larut memicu kekhawatiran akan terjadinya resesi.

Ketiga indeks utama AS ditutup melemah tajam, di tengah kegelisahan pasar terhadap aksi protes Hong Kong, kekalahan Presiden Argentina Mauricio Macri dalam pemilu, dan perselisihan tarif AS-China yang telah mengguncang pasar selama berbulan-bulan.

"Pasar saham dilanda aksi jual karena pasar obligasi bergerak sangat gila. Ada pelarian ke tempat yang aman dan ada banyak ketidakpastian politik,” kata Brian Battle, direktur perdagangan di Performance Trust Capital Partners, seperti dikutip Reuters.

"Orang-orang mulai menyerah dan membeli obligasi untuk menunggu. Emas juga diincar investor,” lanjutnya.

Aksi penghindaran risiko ini mengirim harga emas naik 1 persen pada kisaran tertinggi dalam lebih dari enam tahun terakhir.

Spread yield yang diawasi ketat antara obligasi pemerintah AS bertenor 2 tahun dan 10 tahun menyempit ke perbedaan terkecil sejak 2010, menurut data Refinitiv.

Sebelumnya, Goldman Sachs Group Inc mengatakan pada hari Minggu (11/8) bahwa risiko resesi di AS dan global meningkat ketika perang perdagangan AS-China yang berlarut-larut.

"Apa yang disadari oleh investor adalah bahwa perkembangan di luar perbatasan AS berdampak pada pertumbuhan ekonomi global dan AS," kata Paul Nolte, manajer portofolio di Kingsview Asset Management.

"Investor menemukan fakta bahwa di mana pun tingkat suku bunga dipatok, itu tidak akan mengurangi masalah perdagangan,” lanjutnya.

Data inflasi, harga rumah baru, serta penjualan ritel akan dirilis pekan ini, dan ditunggu investor untuk mencari tanda-tanda pelemahan ekonomi lebih lanjut.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah 391 poin atau 1,49 persen ke level 25.896,44, sedangkan indeks Standard & Poor’s 500 turun 35,96 poin atau 1,23 persen ke level 2.882,69 dan Nasdaq Composite turun 95,73 poin atau 1,2 persen ke 7.863,41.

Seluruh 11 sektor utama S&P 500 berakhir di wilayah negatif, dipimpin oleh sektor finansial, bahan baku, energi, dan barang konsumsi dengan persentase terbesar.

Musim laporan keuangan kedua mendekati akhir, dengan 452 emiten pada indeks S&P 500 merilis laporan keuangannya. Dari jumlah tersebut, 73,5 persen berada di atas perkiraan konsensus.

Di antara saham yang diperdagangkan, platform streaming Roku Inc naik 7,2 persen setelah catatan penelitian dari Needham cenderung lebih memilih saham perusahaan dibandingkan saham pesaingnya, Netflix Inc.

Saham Amgen Inc menguat 4,9 persen menyusul putusan pengadilan yang menguatkan dua paten terkait obat Enbrel milik perusahaan.

Di sisi lain, saham Tapestry Inc dan pemilik Versace, Capri, masing-masing turun 3,9 persen dan 4,4 persen, setelah media sosial China mengkritik perusahaan karena menjual T-shirt yang menunjukkan wilayah Hong Kong dan Makau yang dikuasai China sebagai negara.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa as

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top