3 Sentimen Ini Dorong Pasar Obligasi Menguat Terbatas

Salah satu sentimen yang diperkirakan memengaruhi pasar obligasi pada hari ini yaitu pemotongan suku bunga oleh tiga negara yakni Selandia Baru, India dan Thailand.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 08 Agustus 2019  |  08:57 WIB
3 Sentimen Ini Dorong Pasar Obligasi Menguat Terbatas
Karyawan mencari informasi tentang obligasi di Jakarta, Rabu (17/7/2019). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar obligasi diperkirakan menguat pada perdagangan hari ini. Berikut sentimennya.

Dikutip dari hasil riset hariannya, Kamis (8/8/2019), Direktur Riset Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan dari kurva, pergerakan harga obligasi mulai menemui titik cerah setelah sebelumnya mengalami penurunan. Kendati demikian, dia menyebut ada potensi penguatan terbatas karena faktor perang dagang China-AS masih membayangi pasar.

Adapun, beberapa sentimen yang diperkirakan memengaruhi pasar hari ini yaitu, pertama, pemotongan suku bunga oleh tiga negara yakni Selandia Baru, India dan Thailand.

Penurunan suku bunga tertinggi ditempuh Bank Sentral Selandia Baru sebesar 50 basis poin. Lalu, diikuti Bank Sentral India sebesar 35 basis poin dan Thailand 25 basis poin.

Langkah tersebut dianggap sebagai salah satu cara menekan dampak perang dagang sehingga negara tersebut mengeluarkan kebijakan moneter.

"Pemotongan tingkat suku bunga di beberapa Negara Asia Pasifik seperti, Selandia Baru, India, dan Thailand yang cukup mengejutkan, yang di mana itu artinya perang dagang antara Amerika dan China memberikan sesuatu impact yang sangat besar saat ini untuk terjadinya resesi global," ujarnya.

Sentimen kedua yakni sikap Trump yang semakin agresif mendorong The Fed untuk melakukan pemangkasan suku bunga. Alasannya, pemangkasan suku bunga yang telah ditempuh pada akhir Juli dianggap kurang signifikan.

Maximilianus pun memperkirakan bahwa The Fed didorong agar melakukan pemangkasan suku bunga lanjutan.

"Pada akhirnya kami melihat bahwa The Fed didorong untuk melakukan pemangkasan tingkat suku bunga untuk yang ke dua kali tahun ini," katanya.

Ketiga, Bank Indonesia menyatakan pelonggaran berlangsung lamban karena kondisi ekonomi global yang kemungkinan terpuruk. Adapun, data cadangan devisa mampu menjadi penahan tekanan global. Dia pun memperkirakan perang dagang China-AS masih bakal memengaruhi pasar sepanjang bulan ini.

"Kekhawatiran global akibat perang dagang antara Amerika dan China masih akan terus menghantui hingga akhir bulan ini, yang di mana tensi akan terus meningkat," katanya.

Atas pertimbangan tersebut, dia menyarankan agar investor tetap mencermati stimulus yang memengaruhi pergerakan pasar saham dan obligasi. Oleh karena itu, dia berujar investor bisa melakukan aksi beli dengan tetap hati-hati.

"Kami merekomendasikan potensi beli tetapi tetap hati-hati."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi, surat utang negara

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top