The Fed Tepis Ekspektasi Pelonggaran Moneter, Bursa Asia Melemah

Bursa saham Asia merosot ke posisi terendah dalam enam pekan pada hari Kamis (1/8/2019) karena Federal Reserve AS mengguncang pasar dengan mengisyaratkan bahwa penurunan suku bunga pertama dalam lebih dari satu dekade bukanlah awal dari siklus pelonggaran jangka panjang.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 01 Agustus 2019  |  15:15 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia merosot ke posisi terendah dalam enam pekan pada hari Kamis (1/8/2019) karena Federal Reserve AS mengguncang pasar dengan mengisyaratkan bahwa penurunan suku bunga pertama dalam lebih dari satu dekade bukanlah awal dari siklus pelonggaran jangka panjang.

Investor sebelumnya memperkirakan penurunan suku bunga acuan AS lebih dari 100 basis poin Fed selama tahun 2020 dan mengirim bursa saham global melonjak ke rekor tertinggi dalam beberapa hari terakhir.

Namun optimisme ini dimentahkan oleh Gubernur The Fed Jerome Powell yang bersikap jauh lebih berhati-hati tentang perlunya pelonggaran kebijakan lebih lanjut. Pada pidato setelah rapat The Fed, Powell mengatakan bahwa pelonggaran 25 bps kali ini bukan awal dari serangkaian penurunan suku bunga jangka panjang.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang melemah 0,8 persen, memperpanjang penurunan untuk hari kelima berturut-turut ke level terendah sejak pertengahan Juni dan berada di jalur penurunan persentase satu hari terbesar dalam satu bulan terakhir.

Sementara itu, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang membalikkan penurunan awal dan ditutup menguat 0,09 persen dan 0,14 persen, sedangkan indeks S&P/ASX 200 Australia turun 0,4 persen.

Sementara itu di China, indeks Shanghai Composite melemah 0,81 persen, sedangkan indeks CSI 300 turun 0,83 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong dan Kospi Korea Selatan melemah masing-masing 0,74 persen dan 0,36 persen.

Powell menganggap penurunan suku bunga sebagai penyesuaian siklus terhadap kebijakan, mengutip tanda-tanda perlambatan global, ketegangan perdagangan AS-China, dan keinginan untuk meningkatkan inflasi yang terlalu rendah. Pasar menganggap itu sebagai tanda bahwa The Fed akan berhati-hati dalam melakukan penurunan suku bunga lanjutan.

Aset berisiko seperti saham telah mengalami kemajuan besar dalam dekade terakhir karena bank sentral global telah menjaga kebijakan moneter, pertumbuhan dunia yang kuat, dan peningkatan laba perusahaan.

Tetapi sejak pertengahan tahun lalu, perselisihan perdagangan telah menjadi kekhawatiran utama bagi para pembuat kebijakan karena aktivitas pabrik tertekan, sementara investasi dan laba usaha goyah menyusul pukulan terhadap ekonomi global.

"Kami percaya The Fed berupaya menyeimbangkan kegelisahan pasar mengenai melambatnya pertumbuhan global dengan belanja konsumen dan pasar tenaga kerja yang kuat di AS," kata Nick Maroutsos dari Janus Henderson, seperti dikutip Reuters.

“Dengan kata lain, dengan memangkas hanya 25 bps, The Fed berusaha untuk meningkatkan kepercayaan pasar sementara juga menyimpan menyiapkan langkah cadangan jika terjadi guncangan ekonomi,” lanjutnya.

Menambah kekhawatiran, Amerika Serikat dan China pada hari Rabu mengakhiri putaran pembicaraan perdagangan di Shanghai tanpa keputusan apa pun.

Ekspor Korea Selatan anjlok selama delapan bulan berturut-turut pada Juli di tengah permintaan global yang terus-menerus melemah dan perselisihan yang meningkat dengan Jepang, sementara pesanan ekspor barunya menyusut.

Korea Selatan, yang merupakan eksportir keenam terbesar di dunia, adalah ekonomi industri besar pertama yang merilis data perdagangan setiap bulan, memberikan penilaian awal mengenai kesehatan permintaan global.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia, Kebijakan The Fed

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top