Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Penguatan Dolar Membuat Mayoritas Mata Uang Asia Tak Berdaya

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (29/7/2019) hingga pukul 15.07 WIB, mayoritas mata uang pasar berkembang di Asia melemah dengan kinerja terburuk dipimpin oleh yuan offshore yang melemah 0,22 persen menjadi 6,8963 yuan per dolar AS.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 29 Juli 2019  |  17:18 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Pergerakan mayoritas mata uang pasar berkembang di Asia tertekan seiring dengan trader yang cenderung mengurangi taruhan pada penurunan suku bunga acuan AS yang lebih agresif oleh The Fed.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (29/7/2019) hingga pukul 15.07 WIB, mayoritas mata uang pasar berkembang di Asia melemah dengan kinerja terburuk dipimpin oleh yuan offshore yang melemah 0,22 persen menjadi 6,8963 yuan per dolar AS.

Kemudian, diikuti oleh yuan renmimbi yang melemah 0,147% menjadi 6,8906 yuan per dolar AS dan dolar Singapura yang melemah 0,146% menjadi 1,3716 dolar Singapura per dolar AS.

Won menjadi mata uang dengan kinerja terbaik dan berhasil menguat 0,12% terhadap dolar AS di level 1.183,46 won per dolar AS.

Direktur Valas Societe Generale Kyosuke Suzuki mengatakan bahwa menguatnya data PDB AS menambahkan katalis positif bagi dolar AS di tengah pasar yang menanti pertemuan The Fed sehingga greenback mampu bertahan di level tertingginya dalam 2 bulan terakhir.

PDB AS untuk kuartal kedua tahun ini berhasil dirilis meningkat secara year on year sebesar 2,1%, lebih tinggi daripada perkiraan pasar sebesar 1,8%. Pertumbuhan tersebut disebabkan oleh lonjakan belanja konsumen sehingga mengurangi kekhawatiran pasar atas penurunan ekspor dan persediaan yang lebih sedikit.

Data tersebut telah mengurangi ekspektasi pasar bahwa The Fed akan memangkas suku bunga lebih agresif.

"Angka PDB sedikit lebih kuat dari yang diharapkan, membuat pandangan AS memasuki siklus pelonggaran yang panjang," ujar Kyosuke seperti dikutip dari Reuters, Senin (29/7/2019).

Ahli Strategi Barclays Shinichiro Kadota juga mengatakan bahwa pergerakan dolar AS dalam beberapa perdagangan terakhir telah didukung oleh data ekonomi AS yang berhasil dirilis lebih kuat dan data ekonomi Eropa yang lebih lemah.

"Data zona Eropa yang dirilis akhir-akhir ini juga dirilis lebih lemah dan telah menjadi katalis positif bagi dolar AS, sehingga jika data NFP AS berhasil di rilis lebih kuat greenback akan tetap naik meskipun terdapat penurunan suku bunga The Fed," ujar Kadota.

Selain itu, greenback juga mendapat dorongan kecil dari penasihat ekonomi AS Larry Kudlow yang mengatakan bahwa pihaknya telah mengesampingkan campur tangan pemerintahan di pasar untuk mendevaluasi nilai dolar AS.

Tercatat, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang mayor bergerak di level 98,09 dan menguat 0,08%.

Di sisi lain, saat ini investor juga tengah menantikan dimulainya kembali perundingan perdagangan antara AS dan China pada pekan ini.

Perdagangan tersebut kembali dimulai, setelah hampir 3 bulan AS dan China berada dalam kebuntuan negosiasi dan tidak melakukan perundingan untuk membuat kesepakatan akhir sengketa dagang yang telah berlangsung sejak tahun lalu.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurs dolar
Editor : Ana Noviani
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top