Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

OJK Kaji Insentif Untuk Produk Reksa Dana ETF

Insentif tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi dan transaksi produk reksa dana ETF.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 25 Juli 2019  |  11:44 WIB
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (tengah) berbincang dengan Dirut PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi (kanan), dan Komite Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia Karman Pamurahardjo di sela-sela peluncuran market standard atau standardisasi pasar untuk transaksi Repurchase Agreement atau Repo, atas efek bersifat ekuitas, di Jakarta, Selasa (21/5/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen (tengah) berbincang dengan Dirut PT Bursa Efek Indonesia Inarno Djajadi (kanan), dan Komite Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia Karman Pamurahardjo di sela-sela peluncuran market standard atau standardisasi pasar untuk transaksi Repurchase Agreement atau Repo, atas efek bersifat ekuitas, di Jakarta, Selasa (21/5/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA -- Otoritas Jasa Keuangan tengah mengkaji kebijakan pemberian insentif kepada diler partisipan dan investor reksa dana ETF dalam rangka meningkatkan efisiensi dan transaksi produk ETF di pasar modal.
 
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen menyampaikan saat ini, pihaknya sedang merumuskan kebijakan untuk memberikan insentif kepada diler partisipan maupun investor ETF.
 
"Sekarang kan diler partisipan sudah bikin ETF, dari membeli sahamnya di pasar hingga menjual, itu kan ada biaya transaksi dan fee-nya banyak sekali. Supaya lebih efisien, nanti kita lihat, mungkin biaya transaksinya bisa dikurangi atau dibebaskan," ujarnya di Jakarta, Kamis (25/7/2019).
 
Hoesen menyampaikan OJK telah menerima usulan pemberian insentif tersebut dari bursa selaku Self-Regulatory Organization (SRO). Saat ini, OJK dan SRO lainnya masih mempelajari usulan kebijakan tersebut. 
 
Dengan adanya insentif yang diberikan kepada market maker, transaksi ETF diharapkan bisa lebih efisien dan dapat memberikan imbal hasil yang menarik dari indeks acuannya setelah beberapa potongan biayanya dikurangi.
 
Hoesen mengapresiasi pertumbuhan produk ETF di Indonesia, sejauh ini. Seiring dengan pertumbuhan dana kelolaan produk reksa dana secara keseluruhan, Asset Under Management (AUM) produk ETF juga telah mengalami pertumbuhan sebesar 4 kali lipat sejak 2015 menjadi sekitar Rp14 triliun pada tahun ini, dari sebelumnya Rp3,5 triliun.
 
"Jumlah ETF pun telah bertambah sebanyak 23 produk menjadi sekarang total 30 produk sejak 2015," sebutnya.
 
Adapun minat manajer investasi untuk menerbitkan produk reksa dana ETF juga terpantau meningkat. Saat ini, terdapat 10 fund manager yang telah menerbitkan produk ETF.
 
Dari sisi produk, reksa dana ETF juga berkembang tak lagi yang dikelola secara pasif mengacu kepada indeks acuan. OJK mencatat terdapat 12 produk ETF yang juga dikelola secara aktif oleh manajer investasi.
 
"Berdasarkan hal-hal tersebut, dapat dilihat produk ETF sudah mulai berkembang dan ke depan diharapkan dapat tumbuh dengan baik seiring dengan pertumbuhan pasar modal yang semakin besar," tambah Hoesen.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ojk reksa dana
Editor : Annisa Margrit
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top