Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Timur Tengah Keruh, Harga Minyak Bergairah

Harga minyak mentah berakhir menguat pada perdagangan Senin (22/7/2019), ketika sentimen perebutan kapal tanker minyak Inggris oleh Iran memicu kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 23 Juli 2019  |  07:26 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak mentah berakhir menguat pada perdagangan Senin (22/7/2019), ketika sentimen perebutan kapal tanker minyak Inggris oleh Iran memicu kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Agustus 2019 bertambah 59 sen atau 1,1 persen dan ditutup di level US$56,22 per barel di New York Mercantile Exchange, kenaikan terbesar sejak 10 Juli.

Minyak WTI untuk kontrak yang lebih aktif September berakhir menguat 46 sen di level US$56,22 per barel.

Adapun harga minyak mentah Brent untuk pengiriman September 2019 berakhir menanjak 79 sen di level US$63,26 per barel di ICE Futures Europe Exchange. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium sebesar US$7,04 untuk bulan yang sama.

Meski berakhir di posisi lebih tinggi, penguatan harga minyak sempat tergerus. Inggris menuntut pembebasan kapal tanker Stena Impero, yang direbut oleh Garda Revolusi Iran di Selat Hormuz pada Jumat (19/7/2019). Tapi Menteri Pertahanan Inggris Tobias Ellwood mengatakan ingin mengurangi eskalasi situasi ini.

"Tampaknya ini adalah situasi di mana tidak ada pihak yang mencoba memaksakan solusi militer untuk ketegangan ini,” ujar Bob Yawger, direktur divisi berjangka di Mizuho Securities USA.

“Jadi dalam situasi seperti ini, berita tentang konflik menyebabkan pasar untuk rally kuat dan kemudian turun kembali,” tambahnya.

Minyak mentah acuan AS menanjak pada perdagangan Jumat (19/7) setelah kabar penyitaan tanker itu menyoroti risiko aliran minyak mentah.

Kendati demikian, harga minyak telah turun 7,6 persen pekan lalu, penurunan paling tajam sejak Mei, di tengah kekhawatiran bahwa ekonomi global yang melambat akan membebani permintaan minyak.

Pada Senin (22/7), Perdana Menteri Inggris Theresa May memimpin pertemuan komite darurat Inggris untuk membahas keamanan pengiriman di Teluk Persia.

Meski pemerintah AS sebelumnya mengancam Iran dengan "konsekuensi serius" atas penyitaan kapal tanker dan menyarankan kapal-kapal Inggris untuk menghindari daerah itu, pemerintah Inggris berusaha untuk menurunkan retorika mereka.

Ketegangan telah mengeruhi wilayah Selat Hormuz dalam beberapa pekan terakhir. Iran mengecam sanksi AS yang melumpuhkan ekspor minyaknya dan perebutan salah satu kapal tankernya di dekat Gibraltar. Selat ini diketahui berkontribusi sekitar sepertiga dari aliran minyak di laut dunia.

Sementara itu, dalam menanggapi konflik yang sedang berlangsung, Badan Energi Internasional mengatakan tengah memantau perkembangan di Selat Hormuz dan stok minyak darurat anggotanya cukup besar untuk menutupi gangguan pasokan dalam jangka waktu yang lama.

Pergerakan minyak mentah WTI kontrak Agustus 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

22/7/2019

56,22

+0,59 poin

19/7/2019

55,63

+0,33 poin

18/7/2019

55,30

-1,48 poin

Pergerakan minyak mentah Brent kontrak September 2019

Tanggal

Harga (US$/barel)

Perubahan

22/7/2019

63,26

+0,79 poin

19/7/2019

62,47

+0,54 poin

18/7/2019

61,93

-1,73 poin

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top