Minyak Anjlok, Harga Batu Bara Terus Tertekan

Pelemahan harga batu bara di bursa Newcastle berlanjut pada akhir perdagangan hari keempat berturut-turut, Selasa (16/7/2019).
Renat Sofie Andriani
Renat Sofie Andriani - Bisnis.com 17 Juli 2019  |  08:16 WIB
Minyak Anjlok, Harga Batu Bara Terus Tertekan
Pekerja berjalan di dekat timbunan batu bara, di Berau, Kaltim. - REUTERS/Yusuf Ahmad

Bisnis.com, JAKARTA – Pelemahan harga batu bara di bursa Newcastle berlanjut pada akhir perdagangan hari keempat berturut-turut, Selasa (16/7/2019).

Berdasarkan data Bloomberg, harga batu bara di bursa ICE Newcastle untuk kontrak Agustus 2019 ditutup melemah 0,67 persen atau 0,50 poin di level US$74,20 per metrik ton dari level penutupan perdagangan sebelumnya.

Pada perdagangan Senin (15/7/2019), harga batu bara kontrak Agustus melorot 1,06 persen atau 0,80 poin dan berakhir di level 74,70 (lihat tabel).

Di bursa ICE Rotterdam, harga batu bara untuk kontrak teraktif Oktober 2019 ikut tertekan dan ditutup merosot 1,78 persen atau 1,10 poin di level 60,70 pada perdagangan Selasa (16/7), pelemahan hari ketiga.

Harga batu bara thermal untuk pengiriman September 2019 di Zhengzhou Commodity Exchange, juga berakhir terkoreksi 0,1 persen atau 0,6 poin di level 582,4 yuan per metrik ton.

Dalam risetnya, China Coal Transport & Distribution Association menyatakan data yang menunjukkan lonjakan produksi batu bara China ke rekornya pada Juni telah menekan harga komoditas ini.

Produksi batu bara China pada Juni 2019 melonjak 6,7 persen dibandingkan dengan produksi pada Mei 2019 di tengah persiapan peningkatan permintaan listrik pada puncak musim panas.

Pada Juni 2019, produksi batu bara China mencapai 333,35 juta ton. Jumlah tersebut lebih tinggi 10,4 persen dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama tahun lalu.

Adapun produksi batu bara China sepanjang semester I/2019 telah mencapai 1,76 miliar ton atau naik 2,6 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

“Akan sulit bagi permintaan untuk meningkat lebih lanjut dalam jangka pendek karena curah hujan yang lebih tinggi menandakan bahwa suhu kemungkinan tidak naik secara signifikan,” terang asosiasi ini, dilansir dari Bloomberg. Harga batu bara diperkirakan dapat terus turun.

Dalam risetnya, Analis Huatai Futures Sun Hongyuan mengatakan konsumsi harian pembangkit listrik pantai turun lagi, sementara persediaan batu bara sedikit meningkat berdasarkan pembakaran harian.

“Harga akan berfluktuasi di kisaran posisi terendah saat ini dalam jangka pendek,” sambung Sun. Menurutnya, investor akan menilai perubahan dalam permintaan selama musim puncak konsumsi.

Sejalan dengan batu hitam, harga minyak melemah pada perdagangan hari kedua berturut-turut seiring dengan meredanya ketegangan dengan Iran.

Pada saat yang sama, ancaman pengenaan tarif baru oleh Presiden AS Donald Trump terhadap China memicu kembali kekhawatiran tentang permintaan.

Pada perdagangan Selasa (16/7), minyak  West Texas Intermediate untuk kontrak Agustus ditutup anjlok 3,3 persen atau 1,96 poin di level US$57,62 per barel di New York Mercantile Exchange, penurunan tertajam sejak 2 Juli.

Adapun minyak Brent untuk kontrak September anjlok 2,13 poin atau 3,20 persen dan berakhir di level US$ 64,35 per barel di ICE Futures Europe Exchange di London.

Dilansir dari Bloomberg, Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo mengatakan Iran, yang terkena sanksi AS atas program senjatanya, telah mengisyaratkan keterbukaan untuk pembicaraan.

Menteri Luar Negeri Iran membuat komentar serupa dan menyampaikan petunjuk pertama solusi diplomatik sejak Trump mengumumkan rencana untuk menekan ekspor minyak Iran pada Mei 2019.

Pada saat yang sama, Presiden Donald Trump menegaskan dapat mengenakan tarif tambahan pada impor China, di samping berjanji untuk menunda pengenaan tarif lebih lanjut seperti yang tercapai dalam gencatan perang perdagangan dengan Presiden China Xi Jinping bulan lalu.

Sentimen negatif untuk minyak bertambah dengan laporan American Petroleum Institute (API) tentang kenaikan stok minyak suling AS sebesar 6,23 juta barel pekan lalu. Ini akan menjadi kenaikan terbesar sejak Januari jika data Energy Information Administration (EIA) mengonfirmasi angka tersebut pada Rabu (17/7).

Penurunan baru-baru ini telah menahan reli minyak mentah yang berlangsung selama sebulan terakhir, di tengah kekhawatiran tentang permintaan global dan melonjaknya pasokan minyak shale AS.

Minyak mentah juga kehilangan sebagian penguatan yang dipicu oleh Badai Barry, yang menutup hampir tiga perempat produksi Teluk Meksiko selama akhir pekan. Pengebor dan penyuling minyak di sepanjang pantai Teluk mulai kembali beraktivitas setelah badai bergerak ke daratan.

"Katalis bullish adalah terbatasnya pasokan. Dampak dari badai di Gulf Coast Mexico memudar ketika operasi lepas pantai di wilayah tersebut dilanjutkan. Pada saat yang sama, output shale AS terus memberikan tekanan pada harga minyak,” ungkap tim analis di PVM Oil Associates Ltd, seperti dikutip Bloomberg.

Pergerakan harga batu bara kontrak Agustus 2019 di bursa Newcastle

Tanggal                                    

US$/MT

16 Juli

74,20

(-0,67 persen)

15 Juli

74,70

(-1,06 persen)

12 Juli

75,50

(-1,69 persen)

Sumber: Bloomberg

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga batu bara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top