Harga Emas Hitam Redup, Emiten Produsen Masih Pertahankan Target

Redupnya harga batu bara sepanjang tahun berjalan 2019 tidak membuat sejumlah emiten produsen emas hitam mengendurkan target produksi serta panduan kinerja yang dipasang tahun ini.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 22 Juni 2019  |  18:45 WIB
Harga Emas Hitam Redup, Emiten Produsen Masih Pertahankan Target
Aktivitas bongkar muat batu bara di salah satu tempat penampungan di Balikpapan, Kalimantan Timur, Rabu (3/10/2018). - ANTARA/Irwansyah Putra

Bisnis.com, JAKARTA— Redupnya harga batu bara sepanjang tahun berjalan 2019 tidak membuat sejumlah emiten produsen emas hitam mengendurkan target produksi serta panduan kinerja yang dipasang tahun ini.

Harga batu bara acuan (HBA) belum berhenti menukik setelah mencapai titik terendah sejak 2017 ke level U$$81,86 per ton pada Mei 2019. Pada Juni 2019, acuan yang terbentuk dari empat indeks yakni Indonesia Coal Index (ICI), Newcastle Export Index (NEX), Global Coal Newcastle Index (GCNC), dan Platts 5900 dengan bobot masing-masing 25% itu kembali turun.

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan harga batu bara acuan (HBA) berada di level US$81,48 per ton pada Juni 2019. Artinya, posisi itu kembali turun dari periode Mei 2019.

Ditemui usai menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) tahun buku 2018, Direktur Bayan Resources Jenny Quantero mengungkapkan HBA saat ini masih di atas target yang di pasang perseroan. Dengan demikian, kondisi itu diyakininya tidak mempengaruhi kinerja keuangan.

Pada 2019, emiten bersandi BYAN itu mengincar volume produksi berada di kisaran 32 juta MT hingga 36 juta MT. Harga jual rata-rata diperkirakan US$46 per MT hingga US$48 per MT.

Dari situ, Jenny mengatakan perseroan mengincar pendapatan US$1,5 miliar hingga US$1,8 miliar pada 2019. Artinya, nilai yang dibidik naik hingga 7,78% dari realisasi 2018.

Strategi hampir serupa juga ditempuh oleh PT Adaro Energy Tbk. Manajemen menegaskan masih mempertahankan sejumlah panduan yang dipasang pada 2019.

Garibadldi Thohir, Presiden Direktur dan Chief Executive Officer Adaro Energy menuturkan permintaan batu bara akan bertambah. Hal tersebut sejalan dengan beroperasinya sejumlah pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) baru di Indonesia, Vietnam, Jepang, dan India.

Emiten berkode saham ADRO itu menyebut akan mempertahankan produksi batu bara di level 54 juta ton hingga 56 juta ton dalam 15—20 tahun ke depan. Kisaran tersebut juga sekaligus menjadi panduan target peroduksi perseroan tahun ini.

Sampai kuartal I/2019, ADRO merealisasikan penjualan 13,31 juta ton. Pencapaian itu naik 22% secara tahunan.

PT Bumi Resources Tbk. jugga mempertahankan target volume produksi 88 juta hingga 90 juta ton pada 2019. Adapun, harga jual rata-rata diproyeksikan berada di kisaran US$56 per ton.

“Masih 88 juta ton—90 juta ton [panduan] output batu bara tahun ini. Kami tidak punya alasan untuk mengubahnya,” jelas Direktur Bumi Resources Andrew C. Beckham usai RUPST kinerja 2018 di Jakarta, Selasa (18/6/2019).

PT Kaltim Prima Coal (KPC) merealisasikan penjualan 5,2 juta ton pada Maret 2019. Dengan demikian, total penjualan dari KPC mencapai 15 juta ton pada kuartal I/2019 atau tumbuh 10,29% dari 13,6 juta ton pada kuartal I/2018.

Adapun, penjualan entitas anak lainnya, PT Arutmin Indonesia (PTAI) tercatat 2,5 juta ton pada Maret 2019. Volume penjualan PTAI sebanyak 5,7 juta ton pada kuartal I/2019 atau turun 26,92% dari periode yang sama tahun lalu.

Dengan demikian, total penjualan batu bara BUMI mencapai 20,8 juta ton pada kuartal I/2019. Jumlah itu turun tipis 2% dari 21,3 juta ton pada kuartal I/2018.

Dalam riset yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Janeman Latul, Research Analyst PT Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia dan Marisa Wijayanto, Research Associate PT Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia menuliskan bahwa perubahan struktural yang terjadi selama 12 bulan hingga 24 bulan akan mengubah kondisi pasar komoditas batu bara dari kelebihan pasokan pada 2018 menjadi defisit pada 2020 atau 2021.

Dengan kondisi itu, Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia menjadikan saham produsen batu bara yang mampu menghasilkan arus kas kuat, margin tinggi, beban biaya rendah, serta valuasi yang murah sebagai top picks. 

Salah satu saham yang menjadi top picks yakni PT Adaro Energy Tbk. Emiten bersandi ADRO itu disebut sebagai salah satu eksportir batu bara kalori rendah dan sulfur rendah terbesar di dunia. 

ADRO disukai karena dinilai memiliki arus kas yang kuat dan stabil. Apalagi, perseroan memiliki high dividend yield dan pertumbuhan produksi yang kuat pada 2020.

Oleh karena itu, Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia merekomendasikan beli saham ADRO. Target harga untuk saham perseroan berada di level Rp2.000.

Selain ADRO, Deutsche Verdhana Sekuritas Indonesia juga menjadikan saham PT Indika Energy sebagai top picks. Hal itu juga sejalan dengan arus kas yang kuat dan arus kas bebas atau free cash flow yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.

Saham emiten bersandi INDY itu juga mendapatkan rekomendasi beli dengan target harga Rp2.000.

Di lain pihak, dalam risetnya yang dipublikasikan melalui Bloomberg, Analis PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan memangkas proyeksi harga batu bara global. Keputusan itu mengacu kepada sejumlah asumsi.

Salah satunya terkait langkah pemerintah China yang berupaya menurunkan harga batu bara domestik. Kebijakan itu akan ditempuh untuk membantu produsen listrik.

Dengan adanya rencana itu, China diprediksi akan meningkatkan produksi dalam negari dan menahan impor dari luar negeri. Produksi domestik negeri Panda akan naik 5% menjadi 3,2 miliar ton pada 2019 dan naik 3% menjadi 3,3 miliar ton pada 2020.

Sementara itu, diproyeksikan permintaan batu bara China akan turun 4,8% menjadi 3,60 miliar ton pada 2019.

Dari dalam negeri, Andy menuliskan terdapat sentimen rencana pemerintah untuk membatasi area konsesi tambang milik perseroan menjadi 15.000 hektare. Ke depanya, kebijakan ini akan menjadi risiko penurunan untuk produsen dalam negeri.

“Sampai pemerintah memberikan kejelasan tentang revisi peraturan, kami melihat perusahaan batu bara di Indonesia berada di persimbangan,” tulisnya dalam riset.

Pihaknya menurunkan proyeksi harga batu bara global menjadi US$82 per ton pada 2019 dan US$85 per ton pada 2020. Dengan demikian, peringkat juga diturunkan dari overweight menjadi netral dengan PTBA sebagai saham pilihan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
batubara

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup