Outlook BUMN Infrastruktur Stabil

PT Pemeringkat Efek Indonesia menyematkan peringkat outlook stabil bagi sejumlah perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor konstruksi. Peringkat itu diberikan dengan mempertimbangkan tingginya risiko leverage yang mesti ditanggung.
Anitana Widya Puspa
Anitana Widya Puspa - Bisnis.com 24 Mei 2019  |  20:45 WIB
Outlook BUMN Infrastruktur Stabil
Pekerja beraktivitas di proyek pembangunan gedung bertingkat, di Makassar, Selasa (5/12). Empat BUMN konstruksi masih perlu membukukan kontrak baru sekitar Rp40,18 triliun di sisa waktu tahun ini agar mencapai target kontrak baru tahunan. - JIBI/Paulus Tandi Bone

Bisnis.com, JAKARTA— PT Pemeringkat Efek Indonesia menyematkan peringkat outlook stabil bagi sejumlah perusahaan pelat merah yang bergerak di sektor konstruksi. Peringkat itu diberikan dengan mempertimbangkan tingginya risiko leverage yang mesti ditanggung.

Pendanaan proyek-proyek infrastruktur dan transportasi dalam skala besar masih menjadi faktor pemberat.

Tiga BUMN infrastruktur yakni PT Waskita Karya Tbk. (WSKT) memperoleh peringkat idA- dengan outlook direvisi dari positif menjadi stabil. Selanjutnya PT Adhi Karya Tbk. (ADHI) ditetapkan dalam peringkat idA- dengan outlook stabil, dan PT Pembangunan Perumahan Tbk. (PTPP) berperingkat idA+ dengan outlook stabil.

Analis Pefindo Yogie Surya Perdana mengatakan, turunnya outlook positif menjadi stabil pada WSKT lantaran ekspektasi leverage yang belum membaik.

WSKT, sebutnya Yogir, memiliki model bisnis tidak hanya sebagai kontraktor umum tetapi juga sebagai pemilik jalan tol.

Oleh karena itu, BUMN konstruksi tersebut diharapkan bisa langsung memperoleh pendapatan untuk membayarkan utang setelah operasional jalan tol ataupun melalui proses divestasi. Apalagi, WSKT telah berhasil meraup dana segar dari penerbitan instrumen reksa dana penyertaan terbatas (RDPT).

Namun, rasio utang bersih terhadap EBITDA WSKT ternyata tetap tinggi dalam jangka waktu dekat hingga menengah karena simpanan kontrak yang tinggi senilai Rp68 triliun pada akhir 2018.

Beberapa di antaranya merupakan proyek turnkey yang memerlukan modal kerja signifikan. Pendapatan dari penjualan ruas tol kemungkinan besar bukan untuk menurunkan tingkat utang tetapi digunakan untuk modal kerja kembali.

Selain itu, rasio utang terhadap ekuitas sebeasr 2,4 kali pada akhir Desember lalu juga mendekati batasan 3,0 kali yang ditetapkan dalam perjanjian bank dan obligasi.

Posisi utang yang tinggi tersebut dapat memberikan tekanan di tengah tingkat suku bunga yang tinggi. Hal itu dikarenakan 76 persen dari struktur utangnya terdiri atas pinjaman perbankan dan 43 persen di antaranya bersifat jangka pendek.

“Kalau berbicara soal divestasi, sejauh ini record WSKT baru menjual sedikit dan belum bisa menjadi recurring. Jadwal divestasi juga tidak sesuai time table sering delayed sehingga tidak langsung price in. Jadi kami pilih konservatif,” jelas Yogie kepada Bisnis.

Menurut Yogie peringkat WSKT bisa saja membaik jika divestasi aset jalan tolnya berjalan tepat waktu sesuai kisaran harga yang diharapkan sekaligus memperbaiki profil kreditnya.

Yogie melanjutkan profitabilitas yang baik juga diperlukan sebagai kompensasi risiko yang lebih tinggi dari proyek turn key yang tengah dikerjakan.

Analis pefindo lainnya, Aryo Perbongso mengatakan untuk PT Adhi Karya Tbk. juga masih memiliki outlook stabil seperti tahun sebelumnya. Aryo melanjutkan tidak tercapainya target pendapatan ADHI akibat keterlambatan proyek LRT Jakarta dapat diimbangi dengan peningkatan margin EBITDA.

Namun, peringkat ADHI masih dibatasi oleh leverage keuangan yang agresif, risiko terkait bisnis baru, dan masih bergantungnya pada jasa konstruksi yang relatif kurang stabil.

“Sesuai proyeksi sehingga ratingya stabil saja. Selain itu juga back log-nya masih mayoritas dari LRT dan rencana diversifikasi di beberapa bidang usaha lain yang masih sesuai,” jelas Aryo.

Keberhasilan diversifikasi bisnis ADHI diharapkan bisa menghasilkan pendapatan berulang yang memberikan kontribusi signifikan terhadap arus kas perseroan.

Sementara itu PPRO masih dibatasi oleh peningkatan leverage dalam jangka pendek dan menengah karena belanja modal yang signifikan, risiko ekspansi bisnis baru dengan lingkungan bisnis yang fluktuatif.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bumn konstruksi

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top