OPEC Siap Penuhi Kebutuhan Pasar Minyak, Tetapi Khawatir dengan AS

Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih mengatakan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) akan responsif terhadap kebutuhan pasar minyak. Namun, dia ragu pasokan minyak betul-betul berkurang karena karena persediaan di AS masih terpantau meningkat.
Dika Irawan | 18 Mei 2019 16:42 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih mengatakan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC) akan responsif terhadap kebutuhan pasar minyak. Namun, dia ragu pasokan minyak betul-betul berkurang karena karena persediaan di AS masih terpantau meningkat.

Berbicara di Jeddah jelang pertemuan panel para menteri OPEC dan produsen non-OPEC, Minggu (18/5/2019), Falih mengatakan, OPEC tak akan memutuskan produksi sampai akhir Juni ketika kelompok tersebut bakal bertemu.

OPEC, Rusia, dan produsen non-OPEC lainnya telah sepakat untuk mengurangi produksi sebesar 1,2 juta barel per hari dari Januari lalu selama 6 bulan ke depan. Sebuah kesepakatan yang didesain untuk mencegah penumpukan persediaan minyak dan penurunan harga.

“Kami fleksibel. Kami akan melakukan hal yang benar seperti yang kami selalu lakukan,” katanya seperti dilaporkan Reuters,  Sabtu (18/5/2019).

Falih mengatakan, OPEC dipandu oleh dua prinsip utama. Pertama menjaga keseimbangan pasar dan persediaan minyak kembali ke tingkat tormal. Kedua, harus responsif terhadap kebutuhan pasar. “Kami yakin akan mencapai keseimbangan yang tepat,” katanya.

Meskipun demikian, dia tidak yakin ada kekurangan pasokan minyak karena persediaan minyak mentah di AS menunjukkan peningkatan. “Saya tidak yakin ada kekurangan pasokan, tapi kami akan melihat analisis [pasar]. Kami pasti akan responsif dan pasar akan dipasok. Semua indikasi memperlihatkan persediaan masih naik. Kami melihat data dari AS minggu demi minggu, dan ada peningkatan besar, jadi jelas [ada] pasokan berlimpah,” katanya.

Persediaan minyak mentah AS dilaporkan naik secara tak terduga minggu lalu ke level tertinggi sejak September 2017, sementara stok bensin turun lebih dari perkiraan.

Pangsa pasar yang disepakati oleh OPEC sebesar 800.000 bph. Namun pengurangan aktualnya jauh lebih besar karena gangguan anggota mereka yaitu Iran dan Venezuela. Keduanya berada di bawah sanksi Amerika Serikat.

Presiden AS Donald Trump telah meminta OPEC dan Saudi untuk menurunkan harga minyak. Namun, Saudi enggan meningkatkan pasokan dengan cepat karena berisiko menurunkan harga minyak.

Pertemuan panel menteri Minggu besok, yang dikenal sebagai JMMC, muncul di tengah kekhawatiran pasar yang ketat karena ekspor minyak Iran kemungkinan akan turun lebih lanjut pada Mei. Selain itu, pengiriman dari Venezuela dapat turun lebih banyak dalam beberapa minggu mendatang karena sanksi oleh Washington.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak, opec

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top