Wijaya Karya (WIKA) Targetkan Divestasi Tol Surabaya—Mojokerto Rampung Mei 2019

Kontraktor pelat merah, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. menargetkan proses divestasi kepemilikan di ruas tol Surabaya—Mojokerto dapat rampung pada Mei 2019.
M. Nurhadi Pratomo
M. Nurhadi Pratomo - Bisnis.com 17 Mei 2019  |  05:30 WIB
Wijaya Karya (WIKA) Targetkan Divestasi Tol Surabaya—Mojokerto Rampung Mei 2019
Presiden Joko Widodo (kedua kiri) didampingi Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk Tumiyana (dari kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin, dan Kepala Bekraf Triawan Munaf meresmikan proyek Halal Park, di Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Selasa (16/4/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA — Kontraktor pelat merah, PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. menargetkan proses divestasi kepemilikan di ruas tol Surabaya—Mojokerto dapat rampung pada Mei 2019.

Direktur Keuangan Wijaya Karya Ade Wahyu mengatakan proses divestasi kepemilikan saham perseroan di proyek investasi masih berjalan. Pihaknya mengharapkan proses penjualan kepemilikan di ruas tol Surabaya—Mojokerto (Sumo) dapat rampung pada Mei 2019.

“Kami akan lepas seluruh kepemilikan di tol Sumo,” ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (16/5/2019).

Ade belum membeberkan berapa dana yang didapatkan perseroan lewat divestasi tersebut. Pihaknya menyebut investor yang membeli kepemilikan perseroan berasal dari dalam negeri.

Berdasarkan pemberitaan Bisnis.com sebelumnya, emiten berkode saham WIKA itu mengempit kepemilikan 20% di ruas tol Sumo. Sisanya, kepemilikan dipegang oleh PT Jasa Marga (Persero) Tbk. 55% dan PT Moeladi 25%.

Sebelumnya, Direktur Utama Wijaya Karya Tumiyana menjelaskan bahwa divestasi dilakukan untuk semua investasi yang bersifat jangka panjang. Salah satu objek yang masuk kategori tersebut yakni jalan tol.

“Jalan tol itu investasi jangka panjang. Lebih baik kami divestasi untuk memperbesar balance sheet capacity supaya kekuatan kami naik,” ujarnya.

Tumiyana menjelaskan bahwa divestasi merupakan salah satu strategi untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan perseroan. Lewat opsi yang ditempuh, WIKA mengklaim akan memperbesar kapasitas balance sheet atau neraca keuangan.

Dia menuturkan bahwa ke depan, belanja pemerintah di industri konstruksi tidak akan sebesar periode-periode sebelumnya. Oleh karena itu, perseroan akan menangkap peluang proyek kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) dan prakarsa atau unsolicited sehingga membutuhkan balance sheet yang kuat.

Tumiyana memang telah menyebutkan bahwa divestasi salah satu proyek akan rampung pada kuartal II/2019. Namun, pihaknya juga belum membeberkan berapa dana yang diperoleh dari penjualan kepemilikan tersebut.

Kendati demikian, dia memproyeksikan dapat mengantongi Rp700 miliar melalui divestasi kepemilikan perseroan di sejumlah objek pada 2019.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
wijaya karya, wika, kinerja emiten

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top