Investor Khawatirkan Nasib Perundingan AS-China, Bursa Asia Melemah

AS dan China menghadapi kebuntuan perundingan perdagangan pada hari Minggu ketika Washington menuntut janji perubahan konkret terhadap hukum China, sedangkan Beijing mengatakan tidak akan menelan "buah pahit" yang merugikan kepentingannya.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 13 Mei 2019  |  16:59 WIB
Investor Khawatirkan Nasib Perundingan AS-China, Bursa Asia Melemah
Bursa Kospi - koreajoongangdaily

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia jatuh pada perdagangan Senin (13/5/2019) di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap nasib kesepakatan perdagangan Amerika Serikat-China  (AS-China), setelah Washington menaikkan tarif dan Beijing berjanji untuk membalas.

Dilansir Reuters, AS dan China menghadapi kebuntuan perundingan perdagangan pada hari Minggu ketika Washington menuntut janji perubahan konkret terhadap hukum China, sedangkan Beijing mengatakan tidak akan menelan "buah pahit" yang merugikan kepentingannya.

Investor bersiap menghadapi "langkah-langkah balasan" dari China atas kenaikan tarif impor atas barang-barang China senilai US$200 miliar. Langkah ini menyusul tuduhan oleh Presiden AS Donald Trump bahwa China "melanggar kesepakatan" dengan mengingkari komitmen sebelumnya.

Indeks MSCI Asia Pacific di luar Jepang turun 0,7 persen, mendekati level terendah dua bulan yang dicapai pada hari Kamis pekan lalu.

Sementara itu, indeks Shanghai Composite dan blue-chip CSI 300 masing-masing turun 1,21% dan 1,63%, sementara indeks Hang Seng ditutup untuk liburan.

Indeks Nikkei 225 dan Topix Jepang merosot masing-masing 0,72 persen dan 0,53 persen, dengan indeks Nikkei sempat mencapai level terendah sejak 28 Maret.

Penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow mengatakan kepada Fox News bahwa China perlu menyetujui ketentuan penegakan hukum yang "sangat kuat" untuk kesepakatan dan mengatakan bahwa yang menjadi masalah adalah keengganan China untuk menerapkan perubahan hukum yang telah disepakati.

Kudlow mengatakan tarif AS akan tetap berlaku sementara negosiasi berlanjut dan ada "kemungkinan kuat" bahwa Trump akan bertemu Presiden China Xi Jinping pada pertemuan G20 di Jepang pada akhir Juni.

"Kasus dasar kami tetap bahwa kemungkinan kesepakatan perdagangan antara AS dan China. Tetapi arus berita hari ini menunjukkan bahwa ini bisa memakan waktu lebih lama dan tidak mungkin diselesaikan sampai akhir Juni," kata John Woods, kepala investasi Asia Pacific di Credit Suisse AG, seperti dikutip Reuters.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Bursa Asia

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top