Laporan Keuangan 2018 Disahkan, Ini Catatan Komisaris untuk Garuda Indonesia

Usai rapat, Chairal menjelaskan bahwa keberatannya akan laporan keuangan tersebut karena perjanjian antara Mahata dan Citilink tidak dapat diakui dalam tahun buku 2018.
Muhammad Ridwan
Muhammad Ridwan - Bisnis.com 24 April 2019  |  19:59 WIB
Laporan Keuangan 2018 Disahkan, Ini Catatan Komisaris untuk Garuda Indonesia
Direktur Niaga PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) Pikri Ilham Kurniansyah (dari kiri), Direktur Keuangan & Manajemen Resiko Fuad Rizal, dan Direktur Kargo & Pengembangan Usaha Mohammad Iqbal memberikan penjelasan saat paparan publik, di Tangerang, Banten, Rabu (24/4/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA — Laporan keuangan 2018 PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. telah disetujui para pemegang saham dalam rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) yang digelar pada Rabu (24/4/2019), di Jakarta, meskipun dengan catatan.

Catatan tersebut adalah tidak ditandatanganinya laporan keuangan 2018 oleh dua komisaris perseroan. Kedua komisaris yang memberikan catatan dessenting opinion itu ialah Chairal Tanjung dan Dony Oskaria yang tak lain adalah Komisaris perseroan yang merupakan wakil dari PT Trans Airways dan Finegold Resources Ltd selaku pemegang 28,08% saham di GIAA.

Usai rapat, Chairal menjelaskan bahwa keberatannya akan laporan keuangan tersebut karena perjanjian antara Mahata dan Citilink tidak dapat diakui dalam tahun buku 2018.

Pasalnya, perjanjian Mahata yang ditandatangani pada 31 Oktober 2018 tersebut, hingga tahun buku berakhir, bahkan hingga 2 April 2019 saat surat keberatan yang dilayangkan, perseroan tidak menerima satu pembayaran yang telah dilakukan oleh pihak Mahata meskipun telah terpasang satu unit alat di Citilink.

“Tadi di rapat kami minta untuk dibacakan, tapi menurut pimpinan rapat, itu tidak perlu dibacakan karena sudah terwakili dalam laporan komisaris dan sudah dilekatkan dalam annual report Garuda,” ujarnya usai rapat, Rabu (24/4/2019).

Lebih lanjut, dalam surat yang keberatan tersebut menyebutkan bahwa dalam perjanjian Mahata tidak tercantum term of payment yang jelas, bahkan hingga saat ini masih dinegosiasikan cara pembayarannya.

Menurutnya, terjadi suatu kesalahan akutansi dalam memasukan transaksi tersebut ke dalam laporan tahun buku 2018.

“Kami tidak sependapat dengan perlakuan akutansi yang diterapkan. Laporan tidak berubah, kan, tadi sudah diterima di RUPS, dengan catatan dua dessenting opinion,” ungkapnya

Berdasarkan laporan keuangan yang telah diaudit oleh Kantor Akutan Publik Independen Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang dan rekan, GIAA berbalik untung US$809,846 pada 2018. Posisi tersebut berbalik dari kerugian US$216,58 juta pada 2017.

Meskipun pada periode September 2018, perseroan masih mencatatkan rugi yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$114,08 juta.

Pada 2018, GIAA kembali mencatatkan laba dengan kontribusi terbesar berasal atas pendapatan lain-lain perseroan yang berbanding jauh pada tahun sebelumnya yakni US$19,79 juta.

Pendapatan lain-lain yang dicatatkan perseroan pada 2018 merupakan transaksi senilai US$239.94 juta yang di antaranya senilai US$28 juta merupakan bagi hasil perseroan yang didapat dari PT Sriwijaya Air.

Pendapatan tersebut berasal dari hak pemasangan peralatan layanan konektivitas dan hiburan dalam pesawat dan manajamen konten antara PT Mahata Aero Teknologi dengan PT Citilink Indonesia yang merupakan entitas anak Garuda Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
garuda indonesia

Editor : M. Taufikul Basari
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top